KAMMI Menyikapi Pemilwa

Tahun ini, kita (KAMMI) memang tidak maju ke Pemilwa Kampus IAIN Walisongo dikarenakan beberapa alasan. Namun tak berarti pesta demokrasi tahunan itu dibatalkan sebab ketidak-ikutsertaan kita. Hanya saja akan terjadi suasana yang sepi di hari-H-nya. Pasti itu. Karena mereka hanya bekerja sendiri, tak punya oposisi. Akan ada atmosfir yang tak biasa mereka rasakan. Ini bukan soal rival atau saling memusuhi, namun ini memang sebuah praktik persaingan dalam politik kampus. Kita lihat saja besok, 24 Desember. Ketika sebuah permainan tidak ada persaingan dan perlawanan, maka menangpun tidak menjadi sebuah kebanggaan.

            Tidak maju bukan berarti mundur. Hanya sebuah strategi dan siasat untuk tidak melakukan sesuatu yang sia-sia. Bukan berarti ketika ikut Pemilwa hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka. Akan tetapi, amunisi dan kekuatan yang kita miliki harus jelas orientasi penggunaannya. Belum saatnya kita maju. Masih perlu persiapan agar hasilnya lebih maksimal. Untuk temen-teman yang merasa haus untuk berkecimpung di politik kampus, santai saja, Pemilwa bukan satu-satunya. Kita masih bisa menjadi pengamat politik untuk mengawasi jalannya roda demokrasi kepemimpinan eksekutif yang akan terpilih nanti. Kita bisa menyuarakan aspirasi-aspirasi yang tidak sesuai dengan hasil kerja para pejabat kampus. Itu juga termasuk politik.

            Terkait politik kampus, seyogyanya memang harus benar-benar dipahami oleh mahasiswa. Mau tidak mau kita akan terlibat dalm Politik Kampus. Hanya saja kita bisa menjadi subjek atau objeknya. Terserah kalian mau menjadi apa. Atau mungkin bisa menjadi tirtagonis layaknya di sebuah dunia perfileman yang menjadi penengah dan pemberi sebuah petuah-petuah agar politik senantiasa berada di jalan yang lurus. Istilahnya shirotol mustaqim. Memang sulit untuk memberikan sebuah pemahaman tentang bagaimanakah kita harus berpolitik. Namun, segala sesuatu akan terasa mudah dipahami kalau dipraktikkan dan dilakukan. Seringkali kita tidak menyadari jika telah berpartisipasi dalam dunia politik. Harus diubah mindset kita kalau politik hanya terkait partai, kampanye dan konsolidasi. Bukan hanya itu kawan. Yang terpenting, politik adalah sebuah strategi, cara, atau alat. Entah kalian mau menyebutnya apa.

            Saat ditanya bagaimana KAMMI menyikapi Pemilwa tahun ini, memilih atau golput? Memilih siapa dan kenapa?, tak perlu dipikir pusing. Intinya, Istafti qolbak! Mintalah fatwa kepada hati kalian masing-masing. Ketika kita yakin terhadap calonnya, ya silahkan. Pilihan terbaik adalah memilih. Sebaliknya, ketika tidak tahu profil calon-calonnya, maka cari tahulah, dan setelah itu silahkan kalau mau golput. Pasti pernah kita dengar kalau MUI telah mengharamkan golput. Mungkin itu benar juga. Ketika kita merasa tidak ada calon yang pantas untuk memimpin, maka kita harus yakin bahwa dari sedereten calon pasti ada yang terbaik. Dari yang terburuk tentu ada yang terbaik. Begitu pula dari yang terbaik pasti ada yang paling baik. Itulah alasan MUI mengharamkan golput. Haram dalam konteks ini bukan berarti berhubungan langsung dengan dosa ketika tidak menjalankannya. Namun sebagai aturan untuk membentuk sebuah hasil dan masa depan yang lebih baik, karena suara rakyat adalah yang terutama. Kemudian, ada juga yang berpendapat jika kita memilih golput, itu juga termasuk dalam kategori memilih. Jadi ya memang itu pilihannya, abstain. Analoginya seperti dalam soal ujian atau kuesioner wawancara. Ada pilihan benar, salah, dan tidak tahu. Jika kita memilih tidak tahu, berarti kita telah golput. Itu mungkin alasan mengapa orang memilih golput. Ya karena tidak tahu calon-calonnya.

            Kembali ke soal Pemilwa Kampus IAIN Walisongo semarang. Prosesi kampanye memang telah dilakukan beberapa partai. Namun kita rasa sangat kurang maksimal untuk memberitahu khalayak mahasiswa tentang profil masing-masing calon. Mereka masih terasa asing di kalangan mahasiswa. Apalagi dengan mahasiswa yang bertipe acuh tak acuh terhadap birokrasi kampus. Semestinya dari KPM (Komisi Pemilu Mahasiswa) mengadakan sosialisasi Pemilwa sejak dini, tidak seperti sekarang ini yang semuanya serba mendadak. Harus ada sosialisasi yang lebih dari ini. Intinya memberitahu kepada seluruh mahasiswa terkait pentingnya memilih. Sehingga jangan sampai ada mahasiswa yang tidak tahu Pemilwa, apalagi tahu nama-nama calon yang maju. [zackuva]

Dipublikasi di Departemen Hubungan Masyarakat | Meninggalkan komentar

PEMILWA, Politiknya Mahasiswa*

Gambar

Tidak lama lagi IAIN Walisongo akan mengadakan pesta demokrasi besar-besaran untuk menentukan para pemimpin mahasiswa. Tepatnya besok tanggal 24 Desember, Pemilu Mahasiswa (PEMILWA) akan digelar serentak diempat fakultas sebagai pembelajaran politik praktis mahasiswa di kampus. Tidak bisa dipungkiri lagi, mahasiswa adalah agen social of change yang akan menggantikan para pemimpin Negara di masa mendatang. Namun, politik mahasiswa sangat berbeda dengan politik para penguasa pemerintahan Negara sekarang. Mahasiswa identik dengan intelektual dan idealis yang bersih dari praktek politik kotor. Sulit untuk menemukan praktek-praktek kecurangan dalam skala besar di ranah kampus.

Kampus merupakan gambaran miniatur negara, yang di dalamnya menjalankan pemerintahan mahasiswa. Layaknya negara, pemerintahan kampus juga menjalankan triaspolitika: eksekutif, legislatif, dan yudikatif, yang tercermin pada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), dan Senat Mahasiswa (Sema). Politik kampus sangat menentukan baik buruknya perpolitikan di Indonesia. Kampus menjadi tempat persemaian politisi muda yang akan menentukan masa depan bangsa. Karena pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.

Secarabahasa, politik berasal dari bahasa  Arab,  siyasah, yang berarti taktik atau cara untuk mencapai tujuan tertentu. Ketika proses politik itu kotor, maka akan menghasilkan peraturan  kotor. Peraturan kotor, akan menciptakan tatanan masyarakat yang semrawut, layaknya kehidupan di hutan. Maka dari itu, selayaknya mahasiswa berpolitik sejak dini, dengan cara sehat, dinamis, dan kritis.

Dewasaini, politik telah mengalami pergeseran makna. Politik diartikan sebagai hal kotor, layaknya sampah. Padahal, politik merupakan alat atau cara untuk mencapai tujuan. Jika politik hanya sekadar alat, ibarat sebuah pedang tajam, bisa membantu dan membunuh orang yang menggunakannya. Maka dari itu, mahasiswa harus cakap memegang alat tersebut. Dengan berpolitik yang benar, otomatis mahasiswa membangun fondasi kemajuan demokrasi. Hal ini patut dicontoh semua golongan, khususnya  petinggi, kader, ataupun simpatisan partai politik di negara ini. Parpol sekarang banyak yang menyimpang dan menerapkan politik praktis. Padahal, parpol hanyalah wadah untuk mengaplikasikan ideologi dan penawaran program, bukan menjadikan untuk menguasai dan menjatuhkan lawan politik yang lain.

Sebagai makhluk demokrasi, selayaknya mahasiswa menjalankan roda demokrasi sesuai aturan main politik yang baik. Mahasiswa bisa belajar politik di kampus lewat parpol mahasiswa. Kampus sebagai laboratorium pencetak generasi muda, sudah saatnya mengawali aktivitas politik secara dinamis, bukanmalah sebaliknya. Perguruan tinggi memberi ruang berekpresi mahasiswanya, salah satunya berpolitik lewat parpol mahasiswa. Jadi, pembelajaran politik di kampus harus dimanfaatkan secara maksimal.Sebagai kaum intelektual, mahasiswa tidak sekadar dituntut menjadi insan akademis saja. Namun, mahasiswa harus berpolitik sebagai wujud aktualisasi ilmu yang didapatkan di bangku kuliah.

Berpijak dari paparan di atas, berpolitik bagi mahasiswa adalah sebuah keniscayaan.Karena politik ditujukan untuk kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. Akan tetapi, dewasa ini, politik sudah bergeser dari koridornya, digunakan untuk mencapai kesejahteraan individu dan golongan tertentu. Lalu, siapa yang akan mengubah hal tersebut kalau bukan mahasiswa.

*NB :Tema yang akan didiskusikan pada diskusi KAMMI besok Rabu (11/12) di samping audit kampus3

Dipublikasi di Departemen Hubungan Masyarakat | Meninggalkan komentar

“Menolak SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme, danLiberalisme)”*

Gambar

Islam adalah agama Rohmatan lil’alamin yang kita yakini sebagai satu-satunya agama yang diridhoi olehTuhan.Kesyumuliannya tak bisa dipungkiri lagi karena segala aspek permasalahan bisa ditemukan jawabannya dengan mempelajari islam, yakni berpedoman pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Kehidupan sosial baik sesama pemeluk islam maupun antar non-Islam juga sudah ada ketentuannya. Bahkan kita akan menyetujui sebuah pernyataan bahwa bilamana dalam suatu negara didominasi oleh Muslim, maka non-Muslim pun masih mendapatkan kehidupan yang sejahtera. Namun sebaliknya, ketika suatu negara didominasi oleh non-muslim, maka belum tentu masyarakat muslim yang minoritas mendapatkan hak untuk bisa hidup dengan tenang menjalankan aktivitas ibadahnya. Contoh saja Muslim Rohingnya yang mendapatkan perlakuan tidak layak dari masyarakat non-muslim Myanmar. Mereka hanya bisa pasrah ketika didholimi karena mereka tidak diakui keberadaanya sebagai warga Myanmar disebabkan memeluk islam. Pastilah akan sangat berbeda ketika Islam menjadi agama mayoritas. Insya Allah non-muslim pun akan mendapatkan haknya sebagai warga Negara.

Kemajuan Islam yang sangat pesat diseluruh penjuru dunia membuat mereka [non-muslim_red] geram. Berbagai upaya telah dilakukan oleh mereka agar Islam tidak dapat lagi berjaya dan mudah berkembang. Dengan memasukkan benih-benih pemikiran yang menyimpang dari Islam, mereka para antek-antekpembenci Islam telahmeracuni orang-orang muslim melalui jalur yang kita kenal dengan sebutan Ghozwul fikri. Untuk menghancurkan Islam tak perlu lagi dengan serangan fisik. Sekarang sudah tak zamannya lagi perang face to face. Untuk saat ini mungkin mereka sedang bergembira dan tertawa terbahak-bahak karena umat Islam sekarang sudah mulai banyak yang terpecah belah. Banyaknya organisasi-organisasi keagamaan menjadikan Islam ini semakin lemah kekuatannya.Apalagi dengan diserukannya tiga virus untuk menghancurkan islam, yakni sekularisme, pluralisme, dan liberalisme atau biasa disingkat dengan SEPILIS. Penyakit yang sangat mematikan tentunya. Singkatnya, sekularisme adalah doktrin yang menolak campur tangan nilai-nilai keagamaan dalam urusan manusia. Pluralisme berarti semua agama pada hakikatnya menyembah pada tuhan yang sama, hanya beda dalam penyebutan, semuanya benar, tidak boleh mengklaim salah satu agama saja yang benar. Sedangkan liberalisme lebih condong kepada kebebasan manusia yang tak boleh terbatasi oleh suatu apapun, terutama oleh aturan agama.

Istilah SEPILIS (sekularisme, pluralisme, dan liberalism) tidaklah asing di kalangan kaum muslimin. Pasalnya keberadaan mereka selama ini memerankan sebagai musuh umat Islam Indonesia. Mereka adalah antek imperialis zionisme asing di Indonesia yang bekerja demi kucuran dollar, merusak dan melakukan subversi terhadap Islam.Mereka menamakan dirinya sebagai “Kelompok Moderat” versi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, yang mempunyai komitmen kuat untuk memasarkan ide-ide tentang sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. Dengan bantuan para tokoh pemikir muslim indonesia, diantaranya seperti Jaringan Islam Liberal (JIL) yang dimotori oleh Ulil Abshar Abdalla, menjalankan aksinya untuk merusak aqidah dan keyakinan umat Islam.

Pluralisme tidak akan berkembang tanpa adanya liberalisme dalam agama, karena banyak sekali paham pluralisme yang menyimpang dari agama. Liberalisme tidak  akan tumbuh subur dan bebas bila sebuah negara tidak sekular karena sifat destruktif atau penghancur dari liberalisme terhadap ajaran agama akan terlindungi oleh pemerintah yang sekular. Sementara itu negara yang sekular sangat memerlukan warga negara yang pluralis, karena negara akan benar-benar steril dari campur tangan ajaran agama, pasalnya warga negara yang pluralis tidak akan lagi berdakwah untuk mengembangkan agamanya karena dipikirnya untuk apa berdakwah bila seseorang beragama apapun sudah terjamin masuksurga. Begitu juga negara sekular akan diuntungkan oleh warganya yang liberalis dalam beragama, karena banyak sekali nash-nash agama yang menyatakan sekularisme adalah penghancur agama, nash-nash tersebut akan berubah makna dengan sendirinya sehingga seakan-akan sekularisme adalah ajaran agama.

Itulah kaitan ketiga “isme” tersebut, bahkan penganut sekularisme akan dengan mudah menjadi penganut pluralisme atau liberalisme. Dan bisa jadi satu orang bisa mendapat gelar sebagai pejuang sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. Sebagai mahasiswa yang mendapatkan gelar intelektual dari kalangan masyarakat sangat rawan terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran barat yang bertentangan dengan ajaran Islam. Idealisme masa-masa bangku kuliyah harus kita gunakan untuk aktivitas-aktivitas yang positif. Kita diberikan akal untuk membedakan mana yang baik dan mana yang benar.Namun nafsu sering kali mengalahkan akal, sehingga bukan kebaikan  yang dianut, namun kebatilan yang menguasai akal. Allahumma arinal haqqo haqqon warzuq nattiba’ah waarinal bathila bathilan warzuqnajtinabah. ( M. Muzzakki Aufa I Kadept. Kastrat 2013-2014 )

*NB : Tema yang akan didiskusikan pada hari Selasa, 29 Oktober 2013 pukul 16.00 WIB di samping audit kmpus 3

By :Kastrat KAMMI IAIN Walisongo Semarang

Dipublikasi di Departemen Hubungan Masyarakat | Tag | Meninggalkan komentar

Bersama KAMMI, Merajut Pelangi

Oleh: Dwi Susanti Putri*

“Selamat, Anda telah diterima di IAIN Walisongo Semarang Fakultas Tarbiyah jurusan Tadris Kimia”. Aku terkesima membaca pengumuman yang ada di layar laptopku. Ada rasa senang menyelimuti hati, tetapi sebenarnya aku lebih tegang menunggu pengumuman esok harinya, yaitu pengumuman SNMPTN. Harapanku untuk diterima lewat jalur SNMPTN jauh lebih besar di banding SPMB PTAIN.

…#@#…

Hari ini, kubuka lagi laptopku untuk  melihat pengumuman SNMPTN.  Hatiku mulai tegang, berkali-kali orang tuaku juga kakakku menenangkan, juga memberi wejangan agar aku ridho dengan apapun keputusan-Nya. Saat kubuka dan kulihat pengumuman SNMPTN, dan tenyata aku belum beruntung untuk diterima di kampus yang aku impikan, ketika itu pikiranku benar-benar kacau. Seketika tangisanku tak bisa terbendung lagi, rasanya begitu berat ketika menerima kegagalan dalam mencapai sesuatu.

Hari-hari kulewati dengan memikirkan apakah aku harus kuliah di IAIN Walisongo, berkali-kali istikharah dan waktu semakin dekat dengan batas akhir daftar ulang. Sempat berfikir untuk meninggalkannya dan mencoba di kampus lain, tapi aku mengerti bahwa orangtuaku begitu berharap aku dapat menerima untuk  kuliah di Semarang. Aku rasa memang disinilah aku ditakdirkan menempuh jenjang kuliahku. Orang-orang disekitarku terus menyemangatiku, keluarga, sahabat-sahabat,  juga guru-guruku.

“Dik, Alloh itu menyentuh hati hamba-hamba-Nya dengan begitu lembut, kamu percaya kan kalau Alloh itu Maha Baik dan senantiasa memberikan apapun yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Mungkin itu memang yang terbaik buat kamu, yakin bahwa di Semarang  pasti ada rencana indah dari-Nya untukmu”, kata kakakku ketika menyemangati.

Ku fikirkan baik-baik, akhirnya kuputuskan pergi ke Semarang untuk daftar ulang di kampus IAIN Walisongo.

…#@#…

Akhirnya sampai juga aku di sebuah kota yang cukup asing bagiku yang bernama kota Semarang.  Ketika Aku melangkahkan kakiku di kampus IAIN Walisongo Semarang, tiba-tiba  seorang mahasiswa menyapaku.

Assalamu’alaikum Ukhti, mau daftar ulang ya?” Tanyanya,

Wa’alaikumussalam warohmatulloh, iya Mas. Tempatnya di mana yah?” Tanya ku balik.

“Oh, disini Ukh. Mari saya antar” Jawabnya sambil menunjukan sebuah gedung yang kutuju.

“Oh iya, makasih ”  Ucapku.

Mahasiswa itu membantu proses daftar ulangku dan memberitahukan bagaimana tahap-tahapnya.  Ketika itu aku melihat ada seorang akhwat. aku pun mencoba untuk mendekati dan menyapanya.

assalamu’alaikum, mba kuliah disini?”

“iya dek, mau daftar ulang ya??”

“iya mba, tapi ini udah mau selesai koq, oh iya  mba punya info kos-kosan ga?” Tanya ku, memang hari itu aku harus sudah mendapatkan tempat kos.

“oh iya de, ada. Nih mba juga punya brosurnya, sebentar ya”, Mba itu mencari-cari  brosur didalam tasnya,

“Nih brosurnya, namanya Pesantren Mahasiswa Qolbun Salim dik, baca-baca aja dulu brosurnya, banyak kegiatannya koq.” Katanya sambil meyerahkan brosur kepadaku.

“Oh iya Mba, makasih banyak ya Mba, bay the way namanya siapa mba?” Sampai lupa bahwa  kami belum berkenalan

“panggil aja Mba Tika dik, lha anti  namanya siapa?” Katanya balik bertanya

“Aku Putri  Mba, panggil aja Puput. Yaudah mba makasih ya. Aku pamit dulu, nih udah selesai daftar ulangnya”

“Oh iya dik, sama-sama. Hati-hati ya dik.” Jawabnya sambil menyunggingkan senyuman padaku.

Aku bergegas pulang. Sebelum keluar gerbang aku bertemu kembali dengan mahasiswa yang pertama kali menyapaku. Ia memberikan selebaran berisi info tentang tempat kos dan brosur tentang organisasi KAMMI.

“Ukhti, ini..kalo mau cari-cari info kos silahkan hubungi ke sini aja” katanya sambil menyodorkan kertas ditangannya.

“oh iya, makasih!”jawabku

“Ukhti dulu aktif dirohis ya?”tanyanya padaku

“hm,,ya, dulu memang sempat jadi pengurus rohis, emangnya kenapa ?”tanya ku balik

“ga kenapa-kenapa Ukh, anti tau KAMMI ga?”

“hm..ga terlalu tau sih, cuma waktu itu pernah liat aksinya, itu juga di TV” jawabku seadanya

“KAMMI itu tau ga singkatan dari apa??”

“hm..apa ya?? Ga tau deh” jawab ku tak terlalu peduli

“KAMMI itu, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Ukh, ya kalau di SMA namanya ROHIS nah kalau di jenjang kuliah namanya KAMMI, gitu Ukh” jelas orang itu.

“Oh gitu, iya deh, kalau gitu makasih. Afwan, sudah ditunggu Pakle, Assalamu’alaikum.” jawabku singkat, karena saat itu aku memang sudah ditunggu oleh Pakle yang mengantarku daftar ulang.

wa’alaikumussalam, iya ukh.” Jawabnya singkat.

…#@#…

Setelah mempertimbangkan dengan ayah dan ibuku, aku memutuskan untuk tinggal di Pesma Qolbun Salim saja, aku merasa toh dipesma ini banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan. Kuhubungi contact person yang ada dalam brosur, namanya mba Nisa. Aku meminta agar kami bertemu di kampus 1, beliau menyetujuinya.

Esoknya, kami, aku dan Mba Nisa  bertemu di Masjid Kampus 1. Kami sempat berbincang sebentar sebelum Mba Nisa mengajakku untuk berkeliling melihat Pesma-Pesma akhwat. Setelah mengunjungi beberapa Pesma, maka tibalah aku di Pesma Al-Izzah, Pesma yang didepannya bertuliskan ‘Kesekretariatan KAMMI IAIN Walisongo’. Hmm… aku jadi teringat dengan brosur yang diberikan seorang mahasiswa waktu itu, lantas aku jadi penasaran dengan KAMMI, apa sih KAMMI itu yang sebenarnya. Karena aku ingin tahu, akhirnya aku memutuskan tinggal di asrama ini. Mungkin saja aku akan banyak tahu tentang organisasi ini, yang sebelumnya tak kukenal.

Sempat beberapa waktu yang lalu aku bertanya kepada seorang teman di Jakarta, ia adalah teman kakakku.

“Kak, menurut kakak gimana kalau aku di KAMMI??” Tanyaku suatu hari

“Nggak gimana-gimana, kamu mau ikut KAMMI dek? Nggak kenapa-kenapa, teruskan dik. Kalau kamu bisa istiqomah di KAMMI malah bagus!”

“hm,, gitu yah…yaudah klo gitu aku jadi lebih tenang”.

Beliau memang sudah mewanti-wanti agar aku berhati-hati kuliah di IAIN, karena memang sekolah model IAIN, UIN dan sebagainya itu selalu di jugde sebagai kampus yang liberal. Memang, sempat ada rasa takut dan was-was terhadap KAMMI, karena aku memang belum tahu apa itu KAMMI dan apa saja yang dilakukan didalam KAMMI, tetapi mendengar jawabannya, aku merasa lebih tenang karena ada rasa percaya bahwa di KAMMI aku akan baik-baik saja. Insya Alloh.

…#@#…

Beberapa waktu lalu, kuputuskan mengikuti DM I (Dauroh Marhalah) KAMMI, seperti pelatihan kepemimpinan atau biasa disebut Training Leadership. Subhanalloh acaranya benar-benar seru, dan menghiburku yang ketika itu memang masih belum bisa menerima bahwa aku kuliah di IAIN Walisongo. Dan yang paling ku ingat adalah ketika simulasi aksi, benar-benar menyenangkan. Ada yang menjadi provokator, ada juga sebagi polisi, pendemo, anggota DPR. Aksi menjadi kacau karena ada provokator yang bahkan kita tidak tahu yang mana orangnya. sebelumnya aksi kita adalah aksi  damai, tetapi tiba-tiba menjadi aksi anarkis karena  ada provokator yang mengacaukan segalanya. Aksinya malah menjadi lucu dan benar-benar membuat perutku sakit karena tertawa.

Kurenungkan dan kuingat bagaimana perasaanku ketika mengikuti agenda-agenda KAMMI. Aku mulai merasa nyaman dengan aktivitas yang kujalani disini, di KAMMI.

“Mungkin ini merupakan sebagian dari rencana indah-Nya”, batinku.

Aku pun teringat bahwa ini merupakan sebagian dari do’a ku dulu, mendapat teman-teman ikhwah, dan terjun di jalan dakwah, sungguh ini do’aku ketika itu. Barangkali saat ini memang waktu yang tepat untukku mendapatkan apa yang menjadi angan-anganku dahulu. Allah lebih mengetahui apa yang dibutuhkan hambaNya, dan Alloh akan memberikan apa dibutuhkan hamba-hambaNya pada saat yang tepat.

Hari-hari selanjutnya lebih banyak kegiatan yang kulakukan, Madrasah KAMMI, Sekolah politik, diskusi-diskusi, kemudian ada aksi, dan salah satunya adalah Dauroh Ijtima’i (pelatihan kemasyarakatan). Dalam acara ini, kita diharapkan dapat berbaur dengan masyarakat. Banyak kesulitan memang, ketika harus terjun ke masyarakat, apalagi ini adalah masyarakat asli Semarang, disebuah desa yang disana ditutut untuk bisa berbahasa jawa. Bagiku ini cukup sulit, karena memang aku belum lancar bahasa Jawa, apalagi bahasa Jawanya adalah kromo.

Tapi itu tak menyurutkanku untuk tetap mengikuti kegiatan, juga ikhwati fillah lain. Kita tetap bersemangat sampai acara selesai. Disini, aku mendapat hikmah lagi, mengapa aku ditakdirkan berada di Semarang. Adalah disini kutunaikan amanah sebagai seorang yang diamanahi dakwah, bahwa memang aku begitu membutuhkan dakwah ini, maka aku juga begitu membutuhkan medan dakwah ini. Disini juga aku mengerti bahwa urusan kita tidak hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga masyarakat, juga bagaimana menanggapi pemerintahan dalam suatu negara. Dan apa saja yang bisa kita lakukan untuk negara ini, apa saja yang kita lakukan untuk membela masyarakat yang tetindas juga bagaimana kita memikirkan untuk memperbaiki tatanan pemerintahan yang ada untuk menjadi lebih baik. Dan aku mulai memikirkan ini semua ketika disini, sebagai mahasiswa juga sekaligus sebagai kader.

Aku menikmati dakwah ini bukan berarti bahwa aku tak melalui kesulitan, banyak pastinya yang akan membuat langkahku surut. Komentar-komentar dari orang lain tentang organisasi ini, tentang bagaimana cara ku berpakaian sempat membuatku goyah. Bahkan juga permasalahan waktu juga sempat menggoyahkan ghirohku. Tapi kemudian banyak ikhwah-ikhwah lain yang menyemangati, menguatkan hati. Disinilah aku merasakan ukhuwah yang luar biasa, saling mencintai karena Allah SWT tanpa melihat perbedaan juga kekurangan saudaranya. Mereka telah memberikan warna dalam perjalanan hidupku, dan aku berharap warna ini akan seindah pelangi yang menghiasi ukhuwah ini.

Tak pernah sebelumnya aku terjun dalam medan dakwah sampai pada taraf yang seperti ini, dulu aku tak terlalu peduli dengan hakikat dakwah sebenarnya. Beginilah hakikat dakwah yang sebenarnya, banyak yang akan menyurutkan, mungkin banyak juga yang berjatuhan. Tapi juga akan ada banyak yang menyemangati. Karena kita satu visi.

Inilah hikmah yang kudapat dari kegagalanku. Alloh benar-benar menyentuh hatiku dengan begitu lembut, hingga aku baru menyadari disinilah tempatku, disinilah kutemukan segala yang tak kutemui ditempat-tempat lain. Kutemukan dakwah ini, Kutemukan sosok saudara-saudara yang luar biasa. Seperti apa yang dikatakan oleh ustadz Salim “inilah ruh-ruh yang diakrabkan iman, dan  begitulah ruh-ruh kita diakrabkan”. Ya, Beginilah ruh-ruh kita diakrabkan, di jalan Dakwah ini juga di KAMMI.  Bagiku, KAMMI adalah kado terindah atas kegagalanku.

*Kader KAMMI AB I Angkatan 2011, Staff Kaderisasi 2012-2013, Tadris Fisika/Tarbiyah

Dipublikasi di CERITA KAMMI | Meninggalkan komentar

Pilihan Diantara Yang Baik

Oleh: Vickthau Achmed*

Gemurat fajar di ufuk timur memberikan panggilan hati untuk melangkah lebih jauh di atas bumi yang selalu bertasbih mensucikan Dzat sang Maha pemberi petunjuk. Lama kedua mata ini memandang hamparan lapangan hijau di bukit perumahan serambi tebing curam. Tak kuasa hati ini untuk menahan betapa bimbangnya rasa untuk memilih suatu yang lebih baik.

Semarang pada hari kamis pagi pukul 09.00 wib matahari sudah sepenggalah tingginya, gerah rasanya badan ini segerah luapan emosi yang berkecamuk didalam diri ini. Namun desiran angin membawa aku melangkah lebih jauh.

“Apa ini yang dinamakan jalan Prof. DR. Hamka?” Tanya hati ini lirih

Panas semakin menjadi, pedagang kaki lima di emperan jalan seakan melambai memanggilku untuk sekedar membeli seteguk air kemasan. Tepat disalah satu gang kiri jalan dekat pedagang kaki lima nongkrong, berdiri seorang pemuda berjenggot sembari memencet telepon genggamnya dan tersenyum sendiri. Tak selang beberapa lama datang satu orang temanya berbaju putih bergaris dan berjabat tangan. Tidak ada skenario dari aku untuk bertemu dengan pemuda itu namun hati ini tergerak untuk sekedar menghampiri dan menanyakan alamat, itulah skenario Allah SWT.

“Assalamualaikum mas?” sapa aku malu

“Waalaikumussalam, ada apa mas?” jawab pemuda berbaju putih

“benar, ini jalan Prof. DR. Hamka?” Tanyaku tersengal

Berbisik kedua pemuda itu seakan mereka ragu untuk menjawab. Jeda beberapa lama mereka menjawab,

“benar mas ini jalan Prof. DR. Hamka, masnya mau kemana?

“cari kos-kosan, katanya daerah sini banyak? Ku menjawab dengan membawa rasa lelah yang sedikit menghilang

Beberapa menit berbincang akhirnya aku diajak kedua pemuda itu untuk memilih kos-an yang nyaman bagi ku untuk beristirahat. Sesaat teringat bahwa aku dan kedua pemuda tadi belum sempat untuk saling tukar nama, keenakan ngobrol bareng menjadi lupa untuk saling berta’aruf. Pemuda berjenggot itu bernama Ilham, dia berasal dari kota Malang jawa timur, dan pemuda rambut ikal berbaju putih bergaris bernama Sakti dari kota Kudus.

Ilham dan Sakti  adalah mahasiswa semester empat di perguruan tinggi Islam setempat, IAIN Walisongo namanya. Aku tak merasa rugi bertemu mereka bahkan aku manfaatkan pertemuan itu dengan menggali info seputar IAIN Walisongo Semarang. Ma’lum sebagai mahasiswa baru gak tahu menahu tentang seluk beluk dan sepak terjang kondisi kampus hijau tersebut. Apa lagi kakiku melangkah sampai ibu kota Jawa Tengah hanya bermodal info dari internet yang ada di HP N-GAGE yang setia menemani dari kelas satu SMA.

Bersamaan dengan hawa yang panas, saat itu juga aku memutuskan untuk mengontrak tempat tinggal yang sudah mereka tinggali selama empat semester itu, kebetulan mereka membutuhkan beberapa orang lagi untuk mengontrak hunian sederhana itu agar lebih murah tanggungan untuk membayar kontrak rumah. Tak berfikir panjang memang, namun hati sudah mengatakan mantap untuk menempati hunian sederhana berbalut cat putih pudar.

…cd…

Beberapa hari sebelum kuliah perdana dimulai, rumah mungil itu bertambah dua orang dari Pekalongan sama persis dengan daerah asalku dan dari kota Kudus. Mereka berdua Adi  dari pekalongan dan Krida dari Kudus. Lengkap sudah personil kos-an itu. Bersama bercanda dan bertukar pengalaman tak membutuhkan waktu lama untuk bisa akrab dengan mereka.

Hening suasana sore menambah suasana keakraban teman satu atap. Terbesit ku melihat gambar di dinding dekat TV tangan mengangkat bumi dan bertuliska KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesi) sejenak ku bergumam,

“wuih….keren Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia , UKM opo kuwi?” dengan logat Kajen Pekalongan yang khas

“itu bukan UKM akhi?” sela Ilham senior kos-an mungil, dikos-an sederhana itu memang dibudayakan ngomong pakai arab-arab gitu, pikir ku itu bentuk penghormatan kepada sesama muslim kali….

“gimana mau gabung? Besok tanggal 4 April ada penerimaan anggota baru lho…di Fakultas Sastra UNDIP” terang Sakti dengan nada mengajak.

Merenung sambil berfikir sejenak, akhirnya aku memutuskan untuk gabung dengan alasan nambah pengalaman dan ketemu dengan anak-anak UNDIP, siapa tahu berjumpa dengan kawan satu SMA dulu.

…cd…

Semangat mengikuti intruksi pengurus semakin menjadi, dengan dialog hati yang seiring mengiringi gerak jalan dakwah. Ke kampus dan bolak-balik kekos sudah hal yang biasa. Berbicara cepat dan berjiwa intelektual tinggi menjadi identitas jaket keren berwarna merah,

“ini yang dinamakan mahasiswa ya?” dalam hati ku bergumam

Debu semakin tebal menutupi wajah dan jaket merah, namun semangat itu masih terbawa didalam kelas, aktif dan komutnikatif menjadi amunisi utama anak-anak KAMMI. Argument yang menyerang seakan tak terpatahkan.

Lagi-lagi aku bergumam dalam benak hati ”Sungguh indah dan bermanfaat masuk wadah ini, kurasakan jadi kaum minoritas yang tak dianggap remeh”.

Itulah awal perjuangan, Aku, Adi, dan Krida seakan menjadi superhero fajar pagi, langkah pagi menuju masjid kampus tuk ikut Madrasah KAMMI menjadi suplemen ruhiyah kita. Namun lembaran demi lembaran sudah tergores peristiwa dan kesaksian jalan dakwah, tiba waktu yang menakutkan, badan ini seakan ada yang menusuk, lemas, lunglai rasanya tidak semangat tuk berkarya di KAMMI setelah dua semester dilantik menjadi AB1. Jiwa berkecamuk sama seperti awal aku menginjak kaki di kota ini, seakan ada dua pilihan yang membuat hati ini memberontak. Namun Alhamdulillah Allah memberikan jawaban dengan membukakan memori di AB1 salah satunya adalah kalimat:

“Islam masih ada sampai sekarang karena adanya Dakwah, dan KAMMI adalah salah satu wadah dakwah yang akan membawa antum untuk melakukan aktivitas-aktivitas dakwah. Seandainya antum tidak bergerak untuk dakwah atau keluar dari medan dakwah ini sesungguhnya Dakwah masih akan tetap berjalan tanpa antum, dan ALLAH akan memberikan yang lebih baik daripada antum.”

Bagaiakan sinar mentari yang memanggil semua makhluk bumi bangun dan melakukan segala aktivitasnya, kini hati tersentak dan tergerak dengan memori yang kini ku ingat. Ternyata hal serupa dialami oleh kedua saudaraku Adi dan Krida, namun ada yang sedikit berbeda dengan Krida ia  belum tergerak hatinya untuk melanjutkan ke jalan dakwah ini melainkan bertambah futur dengan kondisinya yang galau di rasuki virus merah jambu. Dengan segala kondisi aku bersama Adi memberanikan diri untuk meminta masukan. Senada suara jangkrik di malam hari memberi soundtrack perbincangan kami malam itu,

“akh Ilham, akh Sakti kita berdua butuh masukan dari antum, maafkan akan segala khilaf yang kemarin kita bertiga lakukan, untuk boikot tidak hadir agenda dan syuro’, hal itu menjadi pelajaran yang berarti karena ketidak pahaman kita akan KAMMI sebagai gerakan dakwah tauhid yang menjadi pemicu mujahid KAMMI untuk terus melangkah”, terang kami termenung dihadapan Ilham dan Sakti

Dengan berbagai rangkaian bahasa yang santun, Sakti dan Ilham mencoba memberikan motivasi dan arahan untuk mendongkrak hati yang membeku, dan sedikit pemahaman akan KAMMI sesungguhnya dan bagaimana melawan berbagai statement dari berbagai sumber yang kurang mendukung gerak dakwah KAMMI. Syukrulah semua berjalan dengan baik.

Malam pengaduan itu membuat hati kita menjadi lebih merasa lega akan guncangan hati yang berperang di setiap malam dan pagi. Namun disayangkan mujahid Krida dia lari dari jalan dakwah, dia lebih memilih untuk menuruti nafsu yang dihinggapi virus merah jambu. Entah apa yang dia jalani dikehidupan barunya.

Segar….jumat pagi membawa langkah lembaran baru aku dan Adi untuk mengawali aktivitas, pagi ceria bersama Iham dan Sakti berangkat syuro’ membahas agenda Bakti Sosial, kebetulan Adi sebagai ketua OC. Kami berdua yakin KAMMI akan membawa kita untuk lebih baik menjalani hidup, selain itu kita tidak hanya akan menjadi saksi untuk kemajuan Islam namun menjadi orang yang berkontribusi untuk Islam. Budaya KAMMI yang tidak boleh luntur kita semua teriakan takbir……ALLAHU AKBAR!!!

 *Kader KAMMI AB I Angkatan 2008, Ketua Departemen SOSMAS Periode 2010-2011, Pendidikan Agama Islam/Tarbiyah

Dipublikasi di CERITA KAMMI | Meninggalkan komentar

KAMMIku, Pilihanku

Oleh: Noor Septaningsih*

 “Ojo sok melu-melu organisasi kampus, ngko angel luluse. Wes kuliah seng bener sek” Ujar Bulekku yang agak cerewet. Padahal orangtuaku mendukung penuh keinginanku. Mereka yakin apa yang aku pilih itu yang terbaik untukku. Ingin rasanya aku menyanggah nasehat bulek, tapi mulutku kaku tuk mengungkapkannya Terpaksa aku hanya bisa berkata “Ngiiiihhhh, bulek,..” Kakakku juga tak kalah cerewetnya menasehatiku. Lebih-lebih, moment itu pas lagi gencar-gencarnya berita tentang NII. Kakakku mengomporiku bahwa di kampusku sasaran empuk NII. Tadinya aku percaya saja dengan apa yang dikatakan kakakku sampai-sampai apabila ada mbak PESMA yang menawariku kegiatan aku menghindar darinya. Pernah waktu itu aku ditawarin MOSBA, aku bertanya dengan mbak yang menawariku MOSBA, tapi mbaknya tidak mau memberitahukanku. Dan katanya MOSBA itu wajib.

“Apa ini cara pengkaderan NII yang dibilang kakakku ya?” Gumamku gundah.

Pada waktu hari H pas MOSBA, hatiku deg-degan. Aku semakin waspada jika diberi materi yang menyimpang. Tetapi ternyata setelah aku telusuri, anggapan kakak dan bulekku salah besar. Ternyata apa yang mbak-mbak pesma sajikan itu memberiku banyak ilmu dan pengalaman. Hehehe

“Hufh, lega rasanya” pikirku senang.

“Yoweslah, angger dikandani seng elek-elek tentang kampus, angger mlebu kuping tengen, metu kuping kiwo. Seng penteng aku tetep neng dalan seng lurus. Aku percoyo neng Ringinwok iki aku entuk barokah akeh.” Gumamku lirih.

Senin, 23 juni 2010 Aku dan saudara kembarku, pergi ke Semarang, mencari tempat tinggalku nanti di Semarang setelah kita diterima tolabul ilmi di IAIN Walisongo. Kulihat teman-temanku mencari perguruan tinggi, mencari kost, dan sebagainya bersama orangtua atau gurunya. Tapi aku berjuang dari mendaftar perguruan tinggi sampai mencari tempat tinggal tanpa orangtuaku. Hanya dibantu kakakku dan saudara kembarku. Sedih rasanya teringat masa itu. Di saat kondisi ekonomi keluargaku sedang gundah gulana, di saat itu pula Allah sedang menguji keimananku. Buat makan saja susah apalagi mau kuliah. Tapi aku tetap optimis bahwa aku pasti kuliah. Meskipun tak jarang air mataku selalu menetes di setiap shalatku. Aku yakin Allah akan membantu hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

Man jadda Wa jadda, aku yakin itu. Sebenarnya saudaraku sudah membantuku mendaftar beasiswa di universitas lain yang lebih bagus dari IAIN Walisongo, tetapi aku merasa mereka kurang ikhlas membantuku, hingga akhirnya aku diterima di IAIN Walisongo yang pendaftarannya diberi tahu oleh kakakku bahkan yang diusahakan saudaraku itu tak ada hasilnya sama sekali. Sayangnya, diterimanya aku di IAIN Walisongo ini tidak didukung penuh oleh sekolahanku apalagi Bulek dan Omku. Mereka menganggap, IAIN Walisongo perguruan tinggi yang kurang bermutu, dan susah mencari pekerjaannya nanti. “Astagfirullah, Ya Rabb, kuatkan imanku. Hanya kepada-Mu aku berserah” doaku setiap mendengar cemoohan mereka. Padahal, di IAIN Walisongo ini aku menemukan jati diriku yang sebenarnya. Hidupku terasa lebih bermakna dengan kehadiran organisasi kampus KAMMI dan lebih berharga dengan kasih sayang seorang akhwat yang selalu menjaga auratnya.

“Mas, ten mriki enten pondok mboten?” tanyaku pada mas-mas pencuci motor di samping Pom Bensin Ngaliyan sambil menyodorkan brosur Pesma Qolbun Salim. Karena ketika itu aku berencana ingin mencari pondokan.

“Coba mbak lurus aja, nanti ada gang, kanan jalan, terus belok.” Jawab mas itu.

“Oooh, nggih mas. Matursuwun sanget.”

Aku melanjutkan perjalananku mencari pondokan sesuai dengan petunjuk mas tadi. Setelah itu, aku menemukan gangnya lalu aku belok ke gang itu.

“Daerah yang aneh, dari tadi naik turun terus kayak gunung tapi rumah semua.” Gumamku.

Setelah sampai ke tempat yang dituju, ternyata di sana banyak cowoknya. Yang ternyata Pondok itu sekarang ini aku tahu adalah YPMI. Dengan berani, aku coba bertanya kepada salah satu orang yang menghuni tempat itu. Kuperlihatkan brosur Pesma Qolbun Salim kepada mas itu.

“Wah, ini bukan Pesma Qolbun Salim, Mbak. Cari kesana coba” jawab mas itu.

Hufh, mau cari lagi kemana. Aku tidak tahu daerah Ngaliyan. Lalu kuberanikan diriku berjalan terus mengikuti jalan raya kecil.

“Kayaknya disini rumah semua, nggak ada pondoknya” Pikirku heran.

Puji Syukur Kehadirat Allah, yang telah memberiku petunjuk. Di perjalanan, aku mencoba bertanya kepada salah satu warga Ngaliyan. Namanya Bu siti, ibu kost PESMA al-Izzah saat ini.

“Buk, ngertos Pesma Qolbun Salim mboten?” Tanyaku optimis.

“Oooo, Sing KAMMI niku mbak?”

“Nggih.”

“Cobi mbak mlebet mriki, niki enten mbak-mbak’e” Jawab Bu Siti sambil menunjuk pesma Qolbun Salim.

“Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, Apaan itu? Apa itu tadi yang dibilang Bu siti ya?” Pikirku bingung ketika melihat tulisan KAMMI di pesma itu.

Lalu aku bertanya-tanya sama mbak yang di pesma itu. Aku sedikit heran, katanya pesantren tapi kok rumah? Hmmm……tak apalah, yang penting dapat tempat tinggal, Murah lagi.

…#@#…

Kejadian ini adalah asbabul wurud aku tinggal di PESMA. Setelah beberapa hari tinggal di PESMA, aku mulai kagum dengan mbak-mbaknya yang ramah dan terjaga auratnya. Aku merasa malu karena di IAIN Walisongo ini aku baru bersekolah mengenakan kerudung. Akhirnya aku tersadar, bahwa aurat wanita itu bak mutiara, semakin tersimpan ia semakin berharga. Semenjak itu, Kumulai keyakinanku untuk menjadi Akhwat sejati sedikit demi sedikit. InsyaAllah!.Entah kenapa aku begitu senang ketika melihat seorang Akhwatifillah pertama kali, meskipun agak sedikit ragu-ragu dan takut mengenai aliran-aliran mereka padahal ya sama saja.

Hari berganti hari, aku mulai ditawari oleh mbak Ida, salah satu mbak pesma untuk gabung di KAMMI.

“Dek, mau ikut organisasi KAMMI nggak?”

“Apaan itu, Mbak?” tanyaku heran.

“Di KAMMI ini, nanti adek akan diperkenalkan dengan kegiatan baksos, diskusi-diskusi politik, bazar wisuda, dll. Itu baik untuk bekal dek Asih nanti kalo mau KKN dan juga ke depannya.” Ujar mbak ida lembut.

“Maaf mbak, aku nggak suka politik-politik. Aku juga nggak dibolehin ikut-ikut organisasi.” Jawabku ketus.

Tetapi, Kulihat teman-teman Pesmaku yang seangkatan denganku bersemangat untuk gabung di KAMMI. Aku pun merasa iri, tapi Aku masih yakin dengan pilihanku sendiri.

“Sih, yuk ikut KAMMI?!” tanya teman sepesmaku.

“Nggak ah, ukh.” Jawabku ragu.

Tapi, lama-kelamaan aku mulai berfikir,

“Kalau aku nggak ikut, nanti kalau ada acara KAMMI, aku dipesma sendiri donk?”

Akhirnya aku ikut-ikutan gabung di KAMMI. Aku mencoba ikut di Dauroh Marhalah I. Awalnya pas berangkat DM I, aku senang sekali, soalnya sudah lama aku nggak jalan-jalan bareng. Tapi, hari kedua DM I, hatiku kesal. Kegiatannya banyak banget, padahal hampir jam 12 malam. Besok juga harus bangun pagi, tapi acaranya belum selesai.

“Mbak, kalau ngasih materi lihat sikon juga dong. Kalau sudah malam ya materinya pending dulu sampai besok, soalnya ilmu itu tidak untuk mengejar target tetapi, untuk dipahami.” Ujarku kesal.

Aku kesal banget dengan acara ini. Sampai-sampai teman sebelahku juga kesal, dia marah ketika ada panitia yang mau ngasih jajan biar nggak ngantuk. Tetap saja materinya masih banyak. Aku masih ingat, setelah acara DM I itu aku dilihatin foto-fotonya. Aku tersenyum lebar ketika melihat fotoku sedang cemberut lantaran marah pada waktu itu. Malu banget rasanya kalau teringat momen itu lagi.

Meskipun begitu, temanku juga ada yang masih bersemangat mengikuti materi, malah dia menikmati diskusinya dengan seksama. Subhanallah, salut banget. Sementara aku baru sedikit saja sudah mengeluh. Astagfirullahaladzim…..

Tapi, setelah lama aku berkecimpung di KAMMI aku baru tesadar bahwa DM I ini belum ada apa-apanya dengan DM II. Di DM II nanti tak ada waktu buat berleha-leha. Waktu senggang diisi dengan tilawah dan hafalan. Hatiku sesal, mengingat komplain egois yang aku lantunkan ke panitia dulu. Padahal, kerja para panitia juga sudah maksimal. Aku malu pada diriku sendiri, diriku seakan-akan sampah yang terbuang sia-sia. Tak memanfaatkan waktu dengan baik. Aku salut dengan kader yang sudah DM II. Semoga kalian tetap istiqomah dengan tanggung jawabnya. Tapi, Aku belum siap untuk mengikuti DM II.

Setelah sekian lama di KAMMI, akhirya dibentuk kepanitiaan. Aku mendapat job di Departemen Ekonomi. Senang rasanya, aku bisa di Departemen Ekonomi. Karena aku suka berbisnis dan hitung-menghitung. Aku mulai merenungi diriku sendiri bahwa mahasiswa tidak hanya kuliah kantin dan kost, tapi juga harus berorganisasi dan menggali bakat. Selagi aku masih diberi kesempatan tinggal di Semarang, aku mulai bertekad untuk bersungguh-sungguh menghadapi pilihanku berkecimpung di organisasi KAMMI, karena aku berprinsip “Where there is a will, there is a way”. Aku juga merasa berat, seandainya nanti aku harus meninggalkan kota Semarang terutama di Ngaliyan yang penuh dengan barokah dan hidayah ini. Karena berkat di Ngaliyan ini, aku menemukan suatu organisasi yang berbeda dari yang lain dan dulu aku sangat mengimpikannya. Bagi teman-teman yang membaca cerpen ini, ingatkan aku di kala nanti kau melihatku sukses di kota Semarang ini, entah aku sudah mengajar atau yang lainnya, tapi tidak kau dapati aku berkontribusi di KAMMI. Ingatkan aku jika semasa kepanitiaanku, aku lalai terhadap tanggung jawabku. Aku tidak siqoh dengan aturan. Ingatkan aku teman. Karena bagiku, KAMMI adalah pengarah masa depanku.

Ya, KAMMI, The Action Group of Indonesian Moslem Students. Organisasi yang sangat berbeda dari yang lain. Teman-temanku pun sering memandang setengah-setengah tentang KAMMI. Padahal Mereka belum tahu siapa KAMMI yang sebenarnya. Aku yakin kalau mereka tahu yang sebenarnya pasti mereka akan berkata “Subhanallah!!!”. Aku yakin itu. Karena di KAMMI semua ada batasnya, dari pergaulan sampai perilaku. Berbeda dari organisasi lain, misalkan PMII, ataupun Himpunan Mahasiswa-mahasiswa kota masing-masing. Di sana perempuan dan laki-laki campur baur bahkan di baksos pun laki-laki dan perempuan serumah meskipun tidak sekamar tetapi ada kemungkinan hal buruk terjadi dari salah seorang laki-laki iseng menfoto teman perempuannya yang sedang tidur, itupun benar terjadi. Temanku memberitahuku ketika dia ikut baksos di suatu organisasi mahasiswa lainnya. Naudzubillah min dzalik. Semoga di KAMMI tidak terjadi hal seperti itu. Aamiin

Aku masih teringat pengalaman mengesankanku di KAMMI sekaligus membuatku yakin bahwa Allah telah memberiku karunia yang begitu besar sehingga aku diperkenalkan dengan KAMMI, ketika aku didelegasikan menjadi peserta Jambore Ukhuwah, sebelumnya saya mengucapkan syukron jazakallah kepada KAKOM KAMMI yang telah mendelegasikanku di Jambore Ukhuwah kemarin. Meskipun sudah capek-capek mempersiapkan dan ikut jambore malah disuruh bayar sendiri keperluannya. Tak apalah, itung-itung Infak. Di sana aku benar-benar menemukan ukhuwah sejati dengan ukhti-ukhti peserta jambore dari Komisariat lain. Penampilan mereka juga tetap terjaga auratnya. Bahkan ada yang sampai memakai jilbab lapis 3, aku aja pakai jilbab lapis 2 sudah merasa gerah. Maklum, belum terbiasa. Mereka sangat bersemangat mengikuti perlombaan bahkan tak ada sedikitpun sikap saling bersaing  dalam jambore ini, kita saling menyemangati peserta dari komisariat lain. Subhanallah,…!!!! Aku mencintai mereka karena-Mu,Ya Allah. Ya Rabb, aku merindukan mereka.      

“Di awal kita bersua…, mencoba untuk saling memahami.. keping-keping di hati terajut dengan indah,.. rasakan persaudaraan kita.

Dan masa pun silih berganti.. ukhuwah dan amanah tertunaikan,… berpeluh suka dan duka, kita jalani semua.. semata-mata harapkan ridho-Nya…

Sahabat,, tibalah masanya,… Bersua pasti ada berpisah.. bila nanti kita jauh berpisah.. .jadikan Robithoh  pengikatnya.. jadikan doa ekspresi rindu… semoga kita bersua disurga….”

Lagu Senandung Ukhuwah yang sering aku nyanyikan ketika aku merindukan mereka.

Aku yakin suatu saat nanti bisa bertemu lagi dengan ukhtiku di jambore ukhuwah, meskipun tidak di dunia tapi aku yakin di surga nanti kita pasti akan bertemu. Aamiin.

Hikmah dari jambore ukhuwah ini, aku menjadi tahu beberapa kader KAMDA. Ada mbak Ica, mbak Nurul, mbak Dani, dll.  Aku bisa melewati jurang yang berliku-liku, aku mengenal anggota-anggota KAMMI dari universitas lain dan aku bisa pushup banyak banget  dalam 3 hari. Tapi, yang paling penting adalah aku mangerti hakekat KAMMI dan aku menemukan jati diriku yang sebenarnya. Tak ada ukhuwah yang sejati selain di KAMMI. KAMMIku, Pilihanku.

 

*Kader KAMMI AB I Angkatan 2010, Bendahara Umum Periode 2012-2013, Kependidikan Islam/Tarbiyah

Dipublikasi di CERITA KAMMI | Meninggalkan komentar

Indahnya Bersama KAMMI

Oleh: M. Luqmanul Hakim*

Pagi yang sangat cerah sekali dan hari pertamaku masuk kuliah membuatku semangat. Saat itu, setelah saya megikuti kuliah, saya disodori sebuah brosur Dauroh Marhalah I dari temenku, yaitu Saifullah Aminudin.

“ya saya baca dulu brosurnya dan tak pikir-pikir, kalu cocok nanti saya daftar”. Ucapku kepada temanku.

“oke luqman, aku tunggu” kata temanku.

Setelah saya mendapatkan brosur, aku konsultasikan kepada temenku yang satu tempat tinggal dimasjid. Dan kebetulan dia juga pernah ikut KAMMI, dan saya disarankan agar ikut KAMMI aja. Waktu itu saya mengikuti sarannya aja. Selain itu saya diperkuat dengan temen-temenku yang satu kelas ada  lima anak yang ikut DM I di KAMMI.

…###…

        Tibahlah saatnya waktu kegiatan DM I, lalu aku baca brosur lagi tempat kumpulnya di masjid Kampus III. Waktu itu saya binggung mau tanya siapa, karena sebelumnya saya tidak kenal dengan orang KAMMI. Beberapa jam kemudian saya tunggu kok masih sepi dimasjid tidak ada anak KAMMI yang menghampiri saya ya…!!!. kemudian saya tnunggu dengan jam 3. Kemudaian saya berubah pikiran ingin membatalkan mengikuti DM I kalu tidak ada anak KAMMI, tiba-tiba ada orang mengenakan jaket merah bertuliskan KAMMI di punggungnya. Lalu saya tanya…

“mas dari KAMMI ya?

“ya dik, adiknya mahasiswa baru ya…? mau ikut DM I ?” Katanya sambil menjbatkan tangannya.

“ya mas saya mau ikut DM I” jawabku balik

Kemudian saya dia ajak naik bis menuju lokasi DM I yaitu di derah Boja, tempatnya lumayan jauh dan memakan waktu sekitar 40 menit. Sampai di tempat lokasi saya dimintak panitia mengikuti acara opening. Saat itulah saya merasakan sesuatu yang berbeda ketika ada pekikan takbir “Allahu Akbar” serentak panitia dan peserta bersama.       Kemudian acara berlangsung dengan baik. Saat itulah aku menemukan sesuatu yang berbeda tapi mebuatku nyaman, yaitu ruhiah dan Ukhuwah anak-anak KAMMI yang kental sekali. Berbeda ketika saat aku mengkuti Bimtes di PMII, ruhiahnya sangat kurang, kegiatan cuma senang-senang saja. Bahkan waktu sholat diabaikan, kalu malam pada main gitaran, rokokan dan ngopi-ngopi mebut ruhiahku kering. Tapi aku meraskan suatu yang indah ketika di KAMMI, yaitu mengutamakan sholat tepat waktu, mengisi waktu luang dengan tilawah dan mebaca buku, inilah yang membuat saya nyaman.

Ada suatu hal yang membuat aku delematis, ketika itu aku harus meninggalkan kegiatan DM I, karena harus mengikuti study tour ke Jogjakarta. Waktu itu hanya mengikuti materi Syahadatain saja. Setelah pulang study tour saya kembali kelokasi DM I untuk melanjutkan. Ternyata waktu itu kegiatan simulasi aksinya sudah selesai tinggal penututupan dan pengumuman kelulusan peserta DM I, dan dari hasil pengumuman tersebut saya dinyatakan lulus bersarat. Dengan hasil pengumuman tersebut membuatku merasa kecewa dan sedih. Saat itulah saya menyadari apa yang telah menjadi konsekuensi saya karena tidak mengikuti kegiatan dengan baik. Peristiwa itualah menjadikan batu loncatan saya menjadi semangat untuk berkomitmen menjadi kader yang terbaik di KAMMI. Dan ternyata kelima temenku di kelas yang masih bertahan dan istiqomah di KAMMI hanya saya saja.

…###…

        Setelah saya banyak terjun di KAMMI mulai dari kegaiatan BIMTES, Madrasah KAMMI, Sekolah Pilitik, Traning Jurnalistik, Training Organisasi KAMMI, Baksos, dll. Ada kegiatan yang mebuatku berkesan ketika mengadakan Bhaksos di desa Padaan, kebetulan saya menjadi panitia dan waktu liburan saya harus mengabaikan liburan saya untuk menyelesaikan kegiatan bhaksos, suatu hal yang menyakitkan ketika saya dan akh Ais silahturrahim ke desa Padaan untuk bertemu dengan salah seorang tokoh yang ada dimasyarakat. Mau mintak izin mengadakan Bhaksos. Ternyata respon dari tokoh masyrakat itu negatif, menganggap kita ingin menyebarkan aliran baru disana. Dan samapai daianggap aliran sesat.

Setelah saya berdiskusi dan saya jelaskan kegiatan kita murni kegiatan sosial, kemudian saya lihatkan program-programnya, yaitu: pengobatan geratis, bazar murah, lomba-lomba, ngajar TPQ, pentas seni anak-anak, kerjabakti dan Pengajian Umum. Akahirnya kita diterima di desa tersebut untuk mengadakan Bhaksos.

Suatu hal yang memberatkan panitia yaitu ketika menentukan pembicara dalam pengajian umum. Kita harus menyesuaiakan kriteria pembicara atau kiyai yang desenangi oleh masyarakat disana. Dengan waktu yang sangat singkat cuma dua hari saja. Saya harus keliling kota semarang, gunung pati dan kendal daerah boja untuk mencari kiyai. Bahkan sudah ada sepuluh kiyai yang saya tembusi ternyat tidak bisa semua. Karena waktu yang mepet dan bertepatan pada bulan Maulud sehingga banyak kiyai yang sudah dimintak ngisi. Saya saat itu sudah berjuang habis-habisan waktu tinggal satu hari saja untuk mencari kiya, ini merupakan suatu yang begitu berat dan pikirku dengan akh Ais. Kalu sampai hari ini kita tidak dapat mau kita taruh mana muka kita akh dengan masyarakat. Pengumuman pengajaian sudah disebar dan masyarakat sudah mempersiapkan konsumsi.

Tapi hari itu kita belum juga dapat kiyai, tinggal nanti malam acara berlangsung. Saya dan akh Ais hampir putus asa. Lalu saya mernung dan berdo’a tiba-tiba ada seseorang yang menelpon untuk meberikan refrensi kiyai dan tanpa pikir panjang lalu kami menuju rumahnya kiyai tersebut yang ada di belakang masjid Ngaliyan. Setelah kami samapi rumahnya ternyata kiyainya tersebut tidak ada dirumah hanya istrinya saja. Lalu hati kami terpukul lagi dengan hal itu, akhirnya saya minta nomer telphonnya. Dan Alhamdulillah setelah saya telpon beliau bisa.

Saat itulah saya berfikir ternyata, ketika kita mempunyai kemauan yang kuat pasti Allah SWT akan meberikan jalan. Karena jalan untuk mencapai sebuah tujuan tidak hanya satu jalan. Dan kadang ketika kita gagal dengan jalan yang satu, kita sudah menyerah dan tidak mau mencari jalan yang lain.

Dalam kegitan bhaksos tersebut banyak pengalaman yang saya dapatkan, ternyata berkehidupan dimasyarakat itu tidak mudah, perlu penyesuaian diri. Antara idealitas dan realitas itu kadang tidak sesuai. Dan setiap masyarakat itu pasti mempunyai karakter yang berbeda-beda serta kita harus mepunyai pengalaman untuk menghadapi itu semua.

…###…

        Saya sudah berjalan di KAMMI beberapa tahun akhirnya dimintak sertifikasi untuk mengikuti DM II, dan tidak semua oarang bisa mengikuti DM II perlu proses yang panjang dan perjuangan. Akhirnya dari angkatan 2008 hanya 2 orang yang bisa mengikuti DM II di KAMDA Semarang, satu ikhwan dan satu akhwat. Dan Alhamdulilah saya termasuk orang yang masuk di DM II tersebut. Temen-temen yang satu kelas sudah pada gugur dan mengundurkan diri dari KAMMI.

Di DM II itulah saya mepunyai banyak teman-teman, ada yang dari Banten, Jakarta, Tasikmalaya, Indramayu, Pekalongan, Purwokerto, Jogjakarta, Solo, Magelang dan lain-lain. Selain mendapatkan temen banyak, juga banyak ilmu dan pengalaman. Saat itulah saya menjadi semangat berdiskusi, membaca dan meningkatkan ruhiah. Dan akhirnya saya dapat lulus di DM II walaupun dulunya DM I lulus bersyarat.

…cd…

        Pada bulan Mei tahun 2011 diadakan Musyawarah Komisariat ke X, ada pemilihan ketua baru Komisariat, saya tidak menyangka dalam musyawarah tersebut, saya terpilih menjadi ketua umum KAMMI Komisariat IAIN Walisongo. Saat itulah saya meneteskan air mata. Karena mengemban amanah seorang pemimpin di KAMMI tidak semudah yang kita bayangkan, banyak perjunagan, banyak waktu yang harus kita korbankan, banyak tenaga yang kita harus keluarakan, banya uang yang harus kita infaqkan, banayak fikiran yang harus kita sumbangkan, selain itu kita harus semnagt, dan loyalitas. Menjadi seorang pemimpin KAMMI tidak sekedar pitar menjemen atau mobilisasi tapi harus menjadi teladan bagi yang lainnya.

…###…

        Setelah beberapa bulan menjadi seorang pemimpin, munculah beberapa maslah yang sangat kompleks. Baik maslah internal dan eksternal. Seperti sulitnya mengatur kader, kadang kegiatan tidak berjalan dengan baik. Bahkan kadang samapai gagal, walupun kita sudah berusaha dengan optimal dan dibumbui dengan keritikan-keritikan pedas yang harus saya terima.

Selain itu permaslahan eksternal juga sangat menyakitkan, banyak fitnah yang ditudingkan oleh masyarakat kampus terhadap KAMMI, seperti KAMMI aliran wahabi, aliran keras, sarang teroris dan NII. Saya yakin tudingan yang dilakukan oleh masyrakat kampus itu semua salah. Dan saya berusaha meluruskan dan mebuktikan apa yang ditudingkan kepada KAMMI itu semua salah.

Maslah yang paling berat yaitu Pemilwa. Pemilwah merupakan suatu kegiatan yang banyak menguras tenaga dan pikiran, selain itu harus di imbangi dengan mentalitas yang kuat. Ada pengalaman yang tidak saya lupakan saat Pemilwa. Aktifitas  yang sangat menguras tenaga. Pagi saya harus kuliah, kemudian siangnya saya harus menyiapkan amunisi kamapnye, sorenya saya harus kosolidasi dengan temen-temen partai. Setelah solat isya’ saya konsolidasi lagi dengan temen-temen HMI sampai jam 11 malam, setelah itu dilanjut menyebar dan menempel amunisi kampanye di kampus smapai jam 1 malam, kemudia istirahat sebentar, jam setengah 2 malam saya harus pulang ke Jepara, karena dimintak orang tua untuk pualang.

Saya samapai rumah jam 4 subuh, setelah itu saya tidur sejenak sampai jam setengah 7. Setelah tidur saya dimintak mebantu panen padi di sawah, walaupun badan capek dan letih saya tetap mebantu orang tua. Apa artinya kita bermanfaat bagi orang lain, tapi tidak bermanfaat untuk orang tua. Setelah panen padi disawah sudah selesai, saya harus kembali ke Semarang jam 2 siang karena ada konsolidasi lagi jam 4. Akhirnya saya nyampai Semarang jam 4 sore, setelah itu sholat Ashar dan langsung berangkat konsolidasi. Setelah sholat isa’ saya harus konsolidasi dengan temen-temen Ikhwan untuk stratgi persiapan pemilwa dilapangan dan dilanjut lembur malam lagi untuk mepersiapkan amunisi untuk para saksi-saksi partai. Dan tidur nyampai malam sekitar jam 2.

Esok harinya saya harus mengawal Pemilwa, ternyata ada sebuah kecuranagan TPS ditarbiayah. Kemudaian saya langsung mengambil KTM yang dikumpulin oleh komting kelas yang diserahkan ke TPS. Itu merupakan sebuah kecurangan karena ada paksaan untuk memilih. Trus saya ocar-acer KTM dan saya berantakin meja petugas TPS, tenyata ada banyak anak-anak PMII yang mau megkroyok saya. Setelah itu datang petugas KPM untuk meluruskan kejadian tersebut. Ketua KPM berjanji akan meberi sangsi kepada pelaku kecurangan. Dan saya tetap memantau aktivitas Samapi penghitungan suara dan selesai jam 2 malam dan baru bisa istirahat. Kegiatan yang melelahkan dan meyita waktu istirahat. Subahanallah….

Saat itulah saya meraskan sebuah keindahan, ketika saya cinta terhadap KAMMI. Dengan cintalah menjadikan seuatu menjadi indah. Apa yang saya lakukan masih sedikit untuk KAMMI, dengan apa yang saya dapatkan dari KAMMI. Setelah saya bekomitmen dengan KAMMI, Komunikasi saya menjadi baik, Intelektual saya semakin luas, jaringan saya semakin banyak, kepekaan sosial saya semakin tajam, dan mengetahui makna apa itu, perjuangan yang sejati, kehilasan yang tinggi, dakwah dengan hati, semangat tiada henti dan kedekatan dengan Illahi…., Amin.

 

        *Kader KAMMI AB I Angkatan 2008, Dan AB II Angkatan 2010, Ketua Umum Periode 2011-2012, Bimbingan & Penyuluhan Islam/Dakwah

 

Dipublikasi di CERITA KAMMI | Meninggalkan komentar