Pilihan Diantara Yang Baik

Oleh: Vickthau Achmed*

Gemurat fajar di ufuk timur memberikan panggilan hati untuk melangkah lebih jauh di atas bumi yang selalu bertasbih mensucikan Dzat sang Maha pemberi petunjuk. Lama kedua mata ini memandang hamparan lapangan hijau di bukit perumahan serambi tebing curam. Tak kuasa hati ini untuk menahan betapa bimbangnya rasa untuk memilih suatu yang lebih baik.

Semarang pada hari kamis pagi pukul 09.00 wib matahari sudah sepenggalah tingginya, gerah rasanya badan ini segerah luapan emosi yang berkecamuk didalam diri ini. Namun desiran angin membawa aku melangkah lebih jauh.

“Apa ini yang dinamakan jalan Prof. DR. Hamka?” Tanya hati ini lirih

Panas semakin menjadi, pedagang kaki lima di emperan jalan seakan melambai memanggilku untuk sekedar membeli seteguk air kemasan. Tepat disalah satu gang kiri jalan dekat pedagang kaki lima nongkrong, berdiri seorang pemuda berjenggot sembari memencet telepon genggamnya dan tersenyum sendiri. Tak selang beberapa lama datang satu orang temanya berbaju putih bergaris dan berjabat tangan. Tidak ada skenario dari aku untuk bertemu dengan pemuda itu namun hati ini tergerak untuk sekedar menghampiri dan menanyakan alamat, itulah skenario Allah SWT.

“Assalamualaikum mas?” sapa aku malu

“Waalaikumussalam, ada apa mas?” jawab pemuda berbaju putih

“benar, ini jalan Prof. DR. Hamka?” Tanyaku tersengal

Berbisik kedua pemuda itu seakan mereka ragu untuk menjawab. Jeda beberapa lama mereka menjawab,

“benar mas ini jalan Prof. DR. Hamka, masnya mau kemana?

“cari kos-kosan, katanya daerah sini banyak? Ku menjawab dengan membawa rasa lelah yang sedikit menghilang

Beberapa menit berbincang akhirnya aku diajak kedua pemuda itu untuk memilih kos-an yang nyaman bagi ku untuk beristirahat. Sesaat teringat bahwa aku dan kedua pemuda tadi belum sempat untuk saling tukar nama, keenakan ngobrol bareng menjadi lupa untuk saling berta’aruf. Pemuda berjenggot itu bernama Ilham, dia berasal dari kota Malang jawa timur, dan pemuda rambut ikal berbaju putih bergaris bernama Sakti dari kota Kudus.

Ilham dan Sakti  adalah mahasiswa semester empat di perguruan tinggi Islam setempat, IAIN Walisongo namanya. Aku tak merasa rugi bertemu mereka bahkan aku manfaatkan pertemuan itu dengan menggali info seputar IAIN Walisongo Semarang. Ma’lum sebagai mahasiswa baru gak tahu menahu tentang seluk beluk dan sepak terjang kondisi kampus hijau tersebut. Apa lagi kakiku melangkah sampai ibu kota Jawa Tengah hanya bermodal info dari internet yang ada di HP N-GAGE yang setia menemani dari kelas satu SMA.

Bersamaan dengan hawa yang panas, saat itu juga aku memutuskan untuk mengontrak tempat tinggal yang sudah mereka tinggali selama empat semester itu, kebetulan mereka membutuhkan beberapa orang lagi untuk mengontrak hunian sederhana itu agar lebih murah tanggungan untuk membayar kontrak rumah. Tak berfikir panjang memang, namun hati sudah mengatakan mantap untuk menempati hunian sederhana berbalut cat putih pudar.

…cd…

Beberapa hari sebelum kuliah perdana dimulai, rumah mungil itu bertambah dua orang dari Pekalongan sama persis dengan daerah asalku dan dari kota Kudus. Mereka berdua Adi  dari pekalongan dan Krida dari Kudus. Lengkap sudah personil kos-an itu. Bersama bercanda dan bertukar pengalaman tak membutuhkan waktu lama untuk bisa akrab dengan mereka.

Hening suasana sore menambah suasana keakraban teman satu atap. Terbesit ku melihat gambar di dinding dekat TV tangan mengangkat bumi dan bertuliska KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesi) sejenak ku bergumam,

“wuih….keren Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia , UKM opo kuwi?” dengan logat Kajen Pekalongan yang khas

“itu bukan UKM akhi?” sela Ilham senior kos-an mungil, dikos-an sederhana itu memang dibudayakan ngomong pakai arab-arab gitu, pikir ku itu bentuk penghormatan kepada sesama muslim kali….

“gimana mau gabung? Besok tanggal 4 April ada penerimaan anggota baru lho…di Fakultas Sastra UNDIP” terang Sakti dengan nada mengajak.

Merenung sambil berfikir sejenak, akhirnya aku memutuskan untuk gabung dengan alasan nambah pengalaman dan ketemu dengan anak-anak UNDIP, siapa tahu berjumpa dengan kawan satu SMA dulu.

…cd…

Semangat mengikuti intruksi pengurus semakin menjadi, dengan dialog hati yang seiring mengiringi gerak jalan dakwah. Ke kampus dan bolak-balik kekos sudah hal yang biasa. Berbicara cepat dan berjiwa intelektual tinggi menjadi identitas jaket keren berwarna merah,

“ini yang dinamakan mahasiswa ya?” dalam hati ku bergumam

Debu semakin tebal menutupi wajah dan jaket merah, namun semangat itu masih terbawa didalam kelas, aktif dan komutnikatif menjadi amunisi utama anak-anak KAMMI. Argument yang menyerang seakan tak terpatahkan.

Lagi-lagi aku bergumam dalam benak hati ”Sungguh indah dan bermanfaat masuk wadah ini, kurasakan jadi kaum minoritas yang tak dianggap remeh”.

Itulah awal perjuangan, Aku, Adi, dan Krida seakan menjadi superhero fajar pagi, langkah pagi menuju masjid kampus tuk ikut Madrasah KAMMI menjadi suplemen ruhiyah kita. Namun lembaran demi lembaran sudah tergores peristiwa dan kesaksian jalan dakwah, tiba waktu yang menakutkan, badan ini seakan ada yang menusuk, lemas, lunglai rasanya tidak semangat tuk berkarya di KAMMI setelah dua semester dilantik menjadi AB1. Jiwa berkecamuk sama seperti awal aku menginjak kaki di kota ini, seakan ada dua pilihan yang membuat hati ini memberontak. Namun Alhamdulillah Allah memberikan jawaban dengan membukakan memori di AB1 salah satunya adalah kalimat:

“Islam masih ada sampai sekarang karena adanya Dakwah, dan KAMMI adalah salah satu wadah dakwah yang akan membawa antum untuk melakukan aktivitas-aktivitas dakwah. Seandainya antum tidak bergerak untuk dakwah atau keluar dari medan dakwah ini sesungguhnya Dakwah masih akan tetap berjalan tanpa antum, dan ALLAH akan memberikan yang lebih baik daripada antum.”

Bagaiakan sinar mentari yang memanggil semua makhluk bumi bangun dan melakukan segala aktivitasnya, kini hati tersentak dan tergerak dengan memori yang kini ku ingat. Ternyata hal serupa dialami oleh kedua saudaraku Adi dan Krida, namun ada yang sedikit berbeda dengan Krida ia  belum tergerak hatinya untuk melanjutkan ke jalan dakwah ini melainkan bertambah futur dengan kondisinya yang galau di rasuki virus merah jambu. Dengan segala kondisi aku bersama Adi memberanikan diri untuk meminta masukan. Senada suara jangkrik di malam hari memberi soundtrack perbincangan kami malam itu,

“akh Ilham, akh Sakti kita berdua butuh masukan dari antum, maafkan akan segala khilaf yang kemarin kita bertiga lakukan, untuk boikot tidak hadir agenda dan syuro’, hal itu menjadi pelajaran yang berarti karena ketidak pahaman kita akan KAMMI sebagai gerakan dakwah tauhid yang menjadi pemicu mujahid KAMMI untuk terus melangkah”, terang kami termenung dihadapan Ilham dan Sakti

Dengan berbagai rangkaian bahasa yang santun, Sakti dan Ilham mencoba memberikan motivasi dan arahan untuk mendongkrak hati yang membeku, dan sedikit pemahaman akan KAMMI sesungguhnya dan bagaimana melawan berbagai statement dari berbagai sumber yang kurang mendukung gerak dakwah KAMMI. Syukrulah semua berjalan dengan baik.

Malam pengaduan itu membuat hati kita menjadi lebih merasa lega akan guncangan hati yang berperang di setiap malam dan pagi. Namun disayangkan mujahid Krida dia lari dari jalan dakwah, dia lebih memilih untuk menuruti nafsu yang dihinggapi virus merah jambu. Entah apa yang dia jalani dikehidupan barunya.

Segar….jumat pagi membawa langkah lembaran baru aku dan Adi untuk mengawali aktivitas, pagi ceria bersama Iham dan Sakti berangkat syuro’ membahas agenda Bakti Sosial, kebetulan Adi sebagai ketua OC. Kami berdua yakin KAMMI akan membawa kita untuk lebih baik menjalani hidup, selain itu kita tidak hanya akan menjadi saksi untuk kemajuan Islam namun menjadi orang yang berkontribusi untuk Islam. Budaya KAMMI yang tidak boleh luntur kita semua teriakan takbir……ALLAHU AKBAR!!!

 *Kader KAMMI AB I Angkatan 2008, Ketua Departemen SOSMAS Periode 2010-2011, Pendidikan Agama Islam/Tarbiyah

Pos ini dipublikasikan di CERITA KAMMI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s