PEMILWA, Politiknya Mahasiswa*

Gambar

Tidak lama lagi IAIN Walisongo akan mengadakan pesta demokrasi besar-besaran untuk menentukan para pemimpin mahasiswa. Tepatnya besok tanggal 24 Desember, Pemilu Mahasiswa (PEMILWA) akan digelar serentak diempat fakultas sebagai pembelajaran politik praktis mahasiswa di kampus. Tidak bisa dipungkiri lagi, mahasiswa adalah agen social of change yang akan menggantikan para pemimpin Negara di masa mendatang. Namun, politik mahasiswa sangat berbeda dengan politik para penguasa pemerintahan Negara sekarang. Mahasiswa identik dengan intelektual dan idealis yang bersih dari praktek politik kotor. Sulit untuk menemukan praktek-praktek kecurangan dalam skala besar di ranah kampus.

Kampus merupakan gambaran miniatur negara, yang di dalamnya menjalankan pemerintahan mahasiswa. Layaknya negara, pemerintahan kampus juga menjalankan triaspolitika: eksekutif, legislatif, dan yudikatif, yang tercermin pada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), dan Senat Mahasiswa (Sema). Politik kampus sangat menentukan baik buruknya perpolitikan di Indonesia. Kampus menjadi tempat persemaian politisi muda yang akan menentukan masa depan bangsa. Karena pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.

Secarabahasa, politik berasal dari bahasa  Arab,  siyasah, yang berarti taktik atau cara untuk mencapai tujuan tertentu. Ketika proses politik itu kotor, maka akan menghasilkan peraturan  kotor. Peraturan kotor, akan menciptakan tatanan masyarakat yang semrawut, layaknya kehidupan di hutan. Maka dari itu, selayaknya mahasiswa berpolitik sejak dini, dengan cara sehat, dinamis, dan kritis.

Dewasaini, politik telah mengalami pergeseran makna. Politik diartikan sebagai hal kotor, layaknya sampah. Padahal, politik merupakan alat atau cara untuk mencapai tujuan. Jika politik hanya sekadar alat, ibarat sebuah pedang tajam, bisa membantu dan membunuh orang yang menggunakannya. Maka dari itu, mahasiswa harus cakap memegang alat tersebut. Dengan berpolitik yang benar, otomatis mahasiswa membangun fondasi kemajuan demokrasi. Hal ini patut dicontoh semua golongan, khususnya  petinggi, kader, ataupun simpatisan partai politik di negara ini. Parpol sekarang banyak yang menyimpang dan menerapkan politik praktis. Padahal, parpol hanyalah wadah untuk mengaplikasikan ideologi dan penawaran program, bukan menjadikan untuk menguasai dan menjatuhkan lawan politik yang lain.

Sebagai makhluk demokrasi, selayaknya mahasiswa menjalankan roda demokrasi sesuai aturan main politik yang baik. Mahasiswa bisa belajar politik di kampus lewat parpol mahasiswa. Kampus sebagai laboratorium pencetak generasi muda, sudah saatnya mengawali aktivitas politik secara dinamis, bukanmalah sebaliknya. Perguruan tinggi memberi ruang berekpresi mahasiswanya, salah satunya berpolitik lewat parpol mahasiswa. Jadi, pembelajaran politik di kampus harus dimanfaatkan secara maksimal.Sebagai kaum intelektual, mahasiswa tidak sekadar dituntut menjadi insan akademis saja. Namun, mahasiswa harus berpolitik sebagai wujud aktualisasi ilmu yang didapatkan di bangku kuliah.

Berpijak dari paparan di atas, berpolitik bagi mahasiswa adalah sebuah keniscayaan.Karena politik ditujukan untuk kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. Akan tetapi, dewasa ini, politik sudah bergeser dari koridornya, digunakan untuk mencapai kesejahteraan individu dan golongan tertentu. Lalu, siapa yang akan mengubah hal tersebut kalau bukan mahasiswa.

*NB :Tema yang akan didiskusikan pada diskusi KAMMI besok Rabu (11/12) di samping audit kampus3

Pos ini dipublikasikan di Departemen Hubungan Masyarakat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s