Gambar

Judul Buku      : Ijtihad Membangun Basis Gerakan

 

Penulis             : Amin Sudarsono

 

Penerbit           : Muda Cendekia

 

Terbit               : Juni 2010, Cetakan I

 

Tebal               : 223 Halaman + xviii + cover

 

Resensator       : Muhammad Muzakki Aufa

 

Syubbanul yaum rijalul ghod. Pemuda sekarang adalah pemimpin di masa mendatang. Pernyataan yang singkat namun syarat akan makna. Pemuda memiliki peranan yang sangat urgen dalam suatu kehidupan. Mereka mimiliki semangat juang yang tinggi, pemikiran-pemikan yang inovasional dan tak mudah menyerah. Ketika ditanya bagaimana keadaan suatu negara, maka tanyalah kondisi para pemudanya. Gerakan-gerakan kepemudaan menjadi tonggak kemajuan bangsa Indonesia. Terbukti dengan munculnya organisasi-organisasi pemuda seperti Budi Utomo dan puncaknya peristiwa Sumpah Pemuda sebagai wadah pemersatu gerakan pemuda seluruh Indonesia. Untuk itu, pemuda tentunya harus dibekali dengan ideologi yang matang dan diarahkan dalam gerakan-gerakan yang benar demi terciptanya sebuah kemajuan, khususnya dalam islam.

 

Amin Sudarsono dalam buku yang berjudul “Ijtihad Membangun Basis Gerakan” ini, mengklasifikasikan basis gerakan tersebut melalui dua model: software dan hardware. Pembahasan  mengenai “software” gerakan dimulai pada aspek yang paling mendasar yaitu ideologi. Menurut penulis, ideologi memiliki fungsi mempolakan, mengkonsolidasikan dan menciptakan arti dalam tindakan masyarakat. Ideologi yang dianutlah yang pada akhirnya akan sangat menentukan bagaimana seseorang atau sekelompok orang memandang sebuah persoalan dan harus berbuat apa untuk mensikapi persoalan tersebut. Dalam hal ini ideologi dapat diibaratkan sebagai kacamata kehidupan dimana tanpa kaca mata itu seseorang tidak dapat melihat dengan jelas apa yang ada di depannya. Sehingga tanpanya akan menghasilkan tindakan-tindakan yang tak beraturan.

 

Suatu ideologi harus terus dapat bertahan di tengah tuntutan asprasi masyarakat dan perkembangan modernitas dunia, setidaknya memiliki tiga dimensi: realitas, idealisme dan fleksibilitas. Realitas mengandung makna bersumber dari nilai-nilai yang riil hidup di dalam masyarakat. Idealisme maksudnya cita-cita yang ingin dicapai dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Fleksibilitas artinya perlu ada perkembangan dari ideologi itu untuk mengikuti perkembangan baru tanpa kehilangan nilai dasar atau hakikat dari ideologi tersebut. Al-muhafadhoh ‘ala al-qodim al-sholih wa al-akhdhu bi al-jadid al-ashlah. Mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil gaya baru yang lebih baik. Begitulah kira-kira yang perlu ditanamkan dalam ideologi.

 

Setelah seorang pemuda mampu memahami dengan sebenar-benarnya apa ideologinya, kemudian software gerakan pemuda selanjutnya adalah bagaimana seorang pemuda mengerti akan perannya sebagai seorang negarawan dalam berpandangan secara politik. Terlebih sebagai muslim, pemuda harus mengetahui karakter-karakter apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi seorang muslim negarawan yang akan melakukan perubahan sosial dalam umat, dan bagaimana menghadapi tantangan Ghozwul Fikr dan kesetaraan Gender yang benar-benar menjadi salah satu kemunduran umat saat ini. Pada tahapan berikutnya, software tersebut harus dijalankan dalam bentuk-bentuk aksi nyata. Itulah yang kemudian disebut oleh Amin Sudarsono sebagai “hardware” gerakan.

 

Layaknya komputer, harus ada perangkat teknis untuk mengoperasikannya. Bagian itu adalah hardware, benda yang tampak fisik dan menjadi sarana operasional system yang diinstal dalam computer itu. Bisa dikatakan software adalah ruhaninya, sedangkan hardware berupa jasmaninya. Oleh karenanya harus ada keseimbangan antara kesehatan jasmani dan ruhani. Begitu pula kekokohan software maupun hardware gerakannya.

 

Kita tidak bisa memungkiri bahwa kampus adalah tempat lahirnya cadangan pemimpin masa depan bangsa. Sejarah telah membuktikan bahwa tokoh-tokoh besar dan berpengaruh pernah digembleng di kampus. Soekarno-Hatta, misalnya. Kedua tokoh ini menjadi founding father bangsa ini. Kampus adalah miniatur suatu negara, menjadi tempat yang layak, karena di dalamnya terdapat proses kaderisasi untuk menyemai benih-benih pemimpin bangsa. Maka mahasiswa harus dapat memanfaatkan potensi kampus ini untuk menjadikannya sebuah basis gerakan, tentunya dengan mengoptimalkan perannya di ranah politik kampus. Ingat kata Imam Syahid Hasan Al-Banna, belum sempurna iman seseorang apabila dia tidak berpolitik.

 

Penulis menyebutkan beberapa keuntungan memasuki arena politik kampus, seperti kesempatan untuk menyuarakan kepentingan kita dan mayoritas mahasiswa konstituen dalam partai kampus, selanjutnya kebijakan kampus dapat kita awasi, kontrol, dan rekomendasikan karena kita punya wakil mahasiswa yang duduk di senat mahasiswa, dan yang terpenting adalah terciptanya kultur jujur dan amanah sehingga pengelolaan lembaga mahasiswa menghasilkan kultur positif. Selanjutnya dalam menyuarakan aspirasinya mahasiswa akan melakukan apa yang disebut dengan aksi massa yang menjadi metode perjuangan mengandalkan kekuatan massa dalam menekan pemerintah atau pihak lain, untuk merubah kebijakan yang tidak sesuai dengan kehendak massa.

 

Selain dengan aksi, hardware gerakan ini juga bisa didapat dengan cara pengambilan keputusan melalui forum dan persidangan, dan di sinilah seorang mahasiswa harus dapat menyuarakan aspirasinya dengan diskusi dan debat. Seperti apa yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam tata cara bermusyawarah. Dan dalam mengelola sebuah organisasi, mahasiswa dituntut untuk dapat berkomunikasi atau kurang lebih bagaimana caranya mahasiswa melakukan propagandanya beserta pesan-pesannya kepada publik. Penulis menyebut berbagai cara berkomunikasi  seperti ini dengan komunikasi persuasif, cara pembuatan propaganda, memilih pesan yang disampaikan, strategi pencitraan, dan bagaimana memanfaatkan media massa.

 

Dan di bagian akhir buku ini penulis mengelaborasi tentang pembacaan global atas realitas religius masyarakat. Gagasan-gagasan yang diungkapkan penulis secara komprehensif pada inti buku ini yaitu pembahasan tentang software gerakan dan teknis hardware gerakan itu sendiri.

 

Dari sekian banyak wacana baru yang ditawarkan oleh buku ini, terselip sedikit kekurangan, yaitu kurangnya sistematisasi penulisan buku terutama di bagian akhir. Serpihan-serpihan gagasan ini masih terkesan “melompat-melompat” dari satu gagasan ke gagasan lainnya, walaupun masih dapat dipahami sebagai sebuah kesatuan ide. Akan tetapi, dengan wacana dan gagasan kontekstual yang ditawarkan oleh penulisnya, kita masih bisa membaca buku ini secara utuh. Selamat membaca….

 

KASTRAT

 

Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Departemen Hubungan Masyarakat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s