KAMMI Menyikapi Pemilwa

Tahun ini, kita (KAMMI) memang tidak maju ke Pemilwa Kampus IAIN Walisongo dikarenakan beberapa alasan. Namun tak berarti pesta demokrasi tahunan itu dibatalkan sebab ketidak-ikutsertaan kita. Hanya saja akan terjadi suasana yang sepi di hari-H-nya. Pasti itu. Karena mereka hanya bekerja sendiri, tak punya oposisi. Akan ada atmosfir yang tak biasa mereka rasakan. Ini bukan soal rival atau saling memusuhi, namun ini memang sebuah praktik persaingan dalam politik kampus. Kita lihat saja besok, 24 Desember. Ketika sebuah permainan tidak ada persaingan dan perlawanan, maka menangpun tidak menjadi sebuah kebanggaan.

            Tidak maju bukan berarti mundur. Hanya sebuah strategi dan siasat untuk tidak melakukan sesuatu yang sia-sia. Bukan berarti ketika ikut Pemilwa hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka. Akan tetapi, amunisi dan kekuatan yang kita miliki harus jelas orientasi penggunaannya. Belum saatnya kita maju. Masih perlu persiapan agar hasilnya lebih maksimal. Untuk temen-teman yang merasa haus untuk berkecimpung di politik kampus, santai saja, Pemilwa bukan satu-satunya. Kita masih bisa menjadi pengamat politik untuk mengawasi jalannya roda demokrasi kepemimpinan eksekutif yang akan terpilih nanti. Kita bisa menyuarakan aspirasi-aspirasi yang tidak sesuai dengan hasil kerja para pejabat kampus. Itu juga termasuk politik.

            Terkait politik kampus, seyogyanya memang harus benar-benar dipahami oleh mahasiswa. Mau tidak mau kita akan terlibat dalm Politik Kampus. Hanya saja kita bisa menjadi subjek atau objeknya. Terserah kalian mau menjadi apa. Atau mungkin bisa menjadi tirtagonis layaknya di sebuah dunia perfileman yang menjadi penengah dan pemberi sebuah petuah-petuah agar politik senantiasa berada di jalan yang lurus. Istilahnya shirotol mustaqim. Memang sulit untuk memberikan sebuah pemahaman tentang bagaimanakah kita harus berpolitik. Namun, segala sesuatu akan terasa mudah dipahami kalau dipraktikkan dan dilakukan. Seringkali kita tidak menyadari jika telah berpartisipasi dalam dunia politik. Harus diubah mindset kita kalau politik hanya terkait partai, kampanye dan konsolidasi. Bukan hanya itu kawan. Yang terpenting, politik adalah sebuah strategi, cara, atau alat. Entah kalian mau menyebutnya apa.

            Saat ditanya bagaimana KAMMI menyikapi Pemilwa tahun ini, memilih atau golput? Memilih siapa dan kenapa?, tak perlu dipikir pusing. Intinya, Istafti qolbak! Mintalah fatwa kepada hati kalian masing-masing. Ketika kita yakin terhadap calonnya, ya silahkan. Pilihan terbaik adalah memilih. Sebaliknya, ketika tidak tahu profil calon-calonnya, maka cari tahulah, dan setelah itu silahkan kalau mau golput. Pasti pernah kita dengar kalau MUI telah mengharamkan golput. Mungkin itu benar juga. Ketika kita merasa tidak ada calon yang pantas untuk memimpin, maka kita harus yakin bahwa dari sedereten calon pasti ada yang terbaik. Dari yang terburuk tentu ada yang terbaik. Begitu pula dari yang terbaik pasti ada yang paling baik. Itulah alasan MUI mengharamkan golput. Haram dalam konteks ini bukan berarti berhubungan langsung dengan dosa ketika tidak menjalankannya. Namun sebagai aturan untuk membentuk sebuah hasil dan masa depan yang lebih baik, karena suara rakyat adalah yang terutama. Kemudian, ada juga yang berpendapat jika kita memilih golput, itu juga termasuk dalam kategori memilih. Jadi ya memang itu pilihannya, abstain. Analoginya seperti dalam soal ujian atau kuesioner wawancara. Ada pilihan benar, salah, dan tidak tahu. Jika kita memilih tidak tahu, berarti kita telah golput. Itu mungkin alasan mengapa orang memilih golput. Ya karena tidak tahu calon-calonnya.

            Kembali ke soal Pemilwa Kampus IAIN Walisongo semarang. Prosesi kampanye memang telah dilakukan beberapa partai. Namun kita rasa sangat kurang maksimal untuk memberitahu khalayak mahasiswa tentang profil masing-masing calon. Mereka masih terasa asing di kalangan mahasiswa. Apalagi dengan mahasiswa yang bertipe acuh tak acuh terhadap birokrasi kampus. Semestinya dari KPM (Komisi Pemilu Mahasiswa) mengadakan sosialisasi Pemilwa sejak dini, tidak seperti sekarang ini yang semuanya serba mendadak. Harus ada sosialisasi yang lebih dari ini. Intinya memberitahu kepada seluruh mahasiswa terkait pentingnya memilih. Sehingga jangan sampai ada mahasiswa yang tidak tahu Pemilwa, apalagi tahu nama-nama calon yang maju. [zackuva]

Pos ini dipublikasikan di Departemen Hubungan Masyarakat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s