Bersama KAMMI, Merajut Pelangi

Oleh: Dwi Susanti Putri*

“Selamat, Anda telah diterima di IAIN Walisongo Semarang Fakultas Tarbiyah jurusan Tadris Kimia”. Aku terkesima membaca pengumuman yang ada di layar laptopku. Ada rasa senang menyelimuti hati, tetapi sebenarnya aku lebih tegang menunggu pengumuman esok harinya, yaitu pengumuman SNMPTN. Harapanku untuk diterima lewat jalur SNMPTN jauh lebih besar di banding SPMB PTAIN.

…#@#…

Hari ini, kubuka lagi laptopku untuk  melihat pengumuman SNMPTN.  Hatiku mulai tegang, berkali-kali orang tuaku juga kakakku menenangkan, juga memberi wejangan agar aku ridho dengan apapun keputusan-Nya. Saat kubuka dan kulihat pengumuman SNMPTN, dan tenyata aku belum beruntung untuk diterima di kampus yang aku impikan, ketika itu pikiranku benar-benar kacau. Seketika tangisanku tak bisa terbendung lagi, rasanya begitu berat ketika menerima kegagalan dalam mencapai sesuatu.

Hari-hari kulewati dengan memikirkan apakah aku harus kuliah di IAIN Walisongo, berkali-kali istikharah dan waktu semakin dekat dengan batas akhir daftar ulang. Sempat berfikir untuk meninggalkannya dan mencoba di kampus lain, tapi aku mengerti bahwa orangtuaku begitu berharap aku dapat menerima untuk  kuliah di Semarang. Aku rasa memang disinilah aku ditakdirkan menempuh jenjang kuliahku. Orang-orang disekitarku terus menyemangatiku, keluarga, sahabat-sahabat,  juga guru-guruku.

“Dik, Alloh itu menyentuh hati hamba-hamba-Nya dengan begitu lembut, kamu percaya kan kalau Alloh itu Maha Baik dan senantiasa memberikan apapun yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Mungkin itu memang yang terbaik buat kamu, yakin bahwa di Semarang  pasti ada rencana indah dari-Nya untukmu”, kata kakakku ketika menyemangati.

Ku fikirkan baik-baik, akhirnya kuputuskan pergi ke Semarang untuk daftar ulang di kampus IAIN Walisongo.

…#@#…

Akhirnya sampai juga aku di sebuah kota yang cukup asing bagiku yang bernama kota Semarang.  Ketika Aku melangkahkan kakiku di kampus IAIN Walisongo Semarang, tiba-tiba  seorang mahasiswa menyapaku.

Assalamu’alaikum Ukhti, mau daftar ulang ya?” Tanyanya,

Wa’alaikumussalam warohmatulloh, iya Mas. Tempatnya di mana yah?” Tanya ku balik.

“Oh, disini Ukh. Mari saya antar” Jawabnya sambil menunjukan sebuah gedung yang kutuju.

“Oh iya, makasih ”  Ucapku.

Mahasiswa itu membantu proses daftar ulangku dan memberitahukan bagaimana tahap-tahapnya.  Ketika itu aku melihat ada seorang akhwat. aku pun mencoba untuk mendekati dan menyapanya.

assalamu’alaikum, mba kuliah disini?”

“iya dek, mau daftar ulang ya??”

“iya mba, tapi ini udah mau selesai koq, oh iya  mba punya info kos-kosan ga?” Tanya ku, memang hari itu aku harus sudah mendapatkan tempat kos.

“oh iya de, ada. Nih mba juga punya brosurnya, sebentar ya”, Mba itu mencari-cari  brosur didalam tasnya,

“Nih brosurnya, namanya Pesantren Mahasiswa Qolbun Salim dik, baca-baca aja dulu brosurnya, banyak kegiatannya koq.” Katanya sambil meyerahkan brosur kepadaku.

“Oh iya Mba, makasih banyak ya Mba, bay the way namanya siapa mba?” Sampai lupa bahwa  kami belum berkenalan

“panggil aja Mba Tika dik, lha anti  namanya siapa?” Katanya balik bertanya

“Aku Putri  Mba, panggil aja Puput. Yaudah mba makasih ya. Aku pamit dulu, nih udah selesai daftar ulangnya”

“Oh iya dik, sama-sama. Hati-hati ya dik.” Jawabnya sambil menyunggingkan senyuman padaku.

Aku bergegas pulang. Sebelum keluar gerbang aku bertemu kembali dengan mahasiswa yang pertama kali menyapaku. Ia memberikan selebaran berisi info tentang tempat kos dan brosur tentang organisasi KAMMI.

“Ukhti, ini..kalo mau cari-cari info kos silahkan hubungi ke sini aja” katanya sambil menyodorkan kertas ditangannya.

“oh iya, makasih!”jawabku

“Ukhti dulu aktif dirohis ya?”tanyanya padaku

“hm,,ya, dulu memang sempat jadi pengurus rohis, emangnya kenapa ?”tanya ku balik

“ga kenapa-kenapa Ukh, anti tau KAMMI ga?”

“hm..ga terlalu tau sih, cuma waktu itu pernah liat aksinya, itu juga di TV” jawabku seadanya

“KAMMI itu tau ga singkatan dari apa??”

“hm..apa ya?? Ga tau deh” jawab ku tak terlalu peduli

“KAMMI itu, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Ukh, ya kalau di SMA namanya ROHIS nah kalau di jenjang kuliah namanya KAMMI, gitu Ukh” jelas orang itu.

“Oh gitu, iya deh, kalau gitu makasih. Afwan, sudah ditunggu Pakle, Assalamu’alaikum.” jawabku singkat, karena saat itu aku memang sudah ditunggu oleh Pakle yang mengantarku daftar ulang.

wa’alaikumussalam, iya ukh.” Jawabnya singkat.

…#@#…

Setelah mempertimbangkan dengan ayah dan ibuku, aku memutuskan untuk tinggal di Pesma Qolbun Salim saja, aku merasa toh dipesma ini banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan. Kuhubungi contact person yang ada dalam brosur, namanya mba Nisa. Aku meminta agar kami bertemu di kampus 1, beliau menyetujuinya.

Esoknya, kami, aku dan Mba Nisa  bertemu di Masjid Kampus 1. Kami sempat berbincang sebentar sebelum Mba Nisa mengajakku untuk berkeliling melihat Pesma-Pesma akhwat. Setelah mengunjungi beberapa Pesma, maka tibalah aku di Pesma Al-Izzah, Pesma yang didepannya bertuliskan ‘Kesekretariatan KAMMI IAIN Walisongo’. Hmm… aku jadi teringat dengan brosur yang diberikan seorang mahasiswa waktu itu, lantas aku jadi penasaran dengan KAMMI, apa sih KAMMI itu yang sebenarnya. Karena aku ingin tahu, akhirnya aku memutuskan tinggal di asrama ini. Mungkin saja aku akan banyak tahu tentang organisasi ini, yang sebelumnya tak kukenal.

Sempat beberapa waktu yang lalu aku bertanya kepada seorang teman di Jakarta, ia adalah teman kakakku.

“Kak, menurut kakak gimana kalau aku di KAMMI??” Tanyaku suatu hari

“Nggak gimana-gimana, kamu mau ikut KAMMI dek? Nggak kenapa-kenapa, teruskan dik. Kalau kamu bisa istiqomah di KAMMI malah bagus!”

“hm,, gitu yah…yaudah klo gitu aku jadi lebih tenang”.

Beliau memang sudah mewanti-wanti agar aku berhati-hati kuliah di IAIN, karena memang sekolah model IAIN, UIN dan sebagainya itu selalu di jugde sebagai kampus yang liberal. Memang, sempat ada rasa takut dan was-was terhadap KAMMI, karena aku memang belum tahu apa itu KAMMI dan apa saja yang dilakukan didalam KAMMI, tetapi mendengar jawabannya, aku merasa lebih tenang karena ada rasa percaya bahwa di KAMMI aku akan baik-baik saja. Insya Alloh.

…#@#…

Beberapa waktu lalu, kuputuskan mengikuti DM I (Dauroh Marhalah) KAMMI, seperti pelatihan kepemimpinan atau biasa disebut Training Leadership. Subhanalloh acaranya benar-benar seru, dan menghiburku yang ketika itu memang masih belum bisa menerima bahwa aku kuliah di IAIN Walisongo. Dan yang paling ku ingat adalah ketika simulasi aksi, benar-benar menyenangkan. Ada yang menjadi provokator, ada juga sebagi polisi, pendemo, anggota DPR. Aksi menjadi kacau karena ada provokator yang bahkan kita tidak tahu yang mana orangnya. sebelumnya aksi kita adalah aksi  damai, tetapi tiba-tiba menjadi aksi anarkis karena  ada provokator yang mengacaukan segalanya. Aksinya malah menjadi lucu dan benar-benar membuat perutku sakit karena tertawa.

Kurenungkan dan kuingat bagaimana perasaanku ketika mengikuti agenda-agenda KAMMI. Aku mulai merasa nyaman dengan aktivitas yang kujalani disini, di KAMMI.

“Mungkin ini merupakan sebagian dari rencana indah-Nya”, batinku.

Aku pun teringat bahwa ini merupakan sebagian dari do’a ku dulu, mendapat teman-teman ikhwah, dan terjun di jalan dakwah, sungguh ini do’aku ketika itu. Barangkali saat ini memang waktu yang tepat untukku mendapatkan apa yang menjadi angan-anganku dahulu. Allah lebih mengetahui apa yang dibutuhkan hambaNya, dan Alloh akan memberikan apa dibutuhkan hamba-hambaNya pada saat yang tepat.

Hari-hari selanjutnya lebih banyak kegiatan yang kulakukan, Madrasah KAMMI, Sekolah politik, diskusi-diskusi, kemudian ada aksi, dan salah satunya adalah Dauroh Ijtima’i (pelatihan kemasyarakatan). Dalam acara ini, kita diharapkan dapat berbaur dengan masyarakat. Banyak kesulitan memang, ketika harus terjun ke masyarakat, apalagi ini adalah masyarakat asli Semarang, disebuah desa yang disana ditutut untuk bisa berbahasa jawa. Bagiku ini cukup sulit, karena memang aku belum lancar bahasa Jawa, apalagi bahasa Jawanya adalah kromo.

Tapi itu tak menyurutkanku untuk tetap mengikuti kegiatan, juga ikhwati fillah lain. Kita tetap bersemangat sampai acara selesai. Disini, aku mendapat hikmah lagi, mengapa aku ditakdirkan berada di Semarang. Adalah disini kutunaikan amanah sebagai seorang yang diamanahi dakwah, bahwa memang aku begitu membutuhkan dakwah ini, maka aku juga begitu membutuhkan medan dakwah ini. Disini juga aku mengerti bahwa urusan kita tidak hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga masyarakat, juga bagaimana menanggapi pemerintahan dalam suatu negara. Dan apa saja yang bisa kita lakukan untuk negara ini, apa saja yang kita lakukan untuk membela masyarakat yang tetindas juga bagaimana kita memikirkan untuk memperbaiki tatanan pemerintahan yang ada untuk menjadi lebih baik. Dan aku mulai memikirkan ini semua ketika disini, sebagai mahasiswa juga sekaligus sebagai kader.

Aku menikmati dakwah ini bukan berarti bahwa aku tak melalui kesulitan, banyak pastinya yang akan membuat langkahku surut. Komentar-komentar dari orang lain tentang organisasi ini, tentang bagaimana cara ku berpakaian sempat membuatku goyah. Bahkan juga permasalahan waktu juga sempat menggoyahkan ghirohku. Tapi kemudian banyak ikhwah-ikhwah lain yang menyemangati, menguatkan hati. Disinilah aku merasakan ukhuwah yang luar biasa, saling mencintai karena Allah SWT tanpa melihat perbedaan juga kekurangan saudaranya. Mereka telah memberikan warna dalam perjalanan hidupku, dan aku berharap warna ini akan seindah pelangi yang menghiasi ukhuwah ini.

Tak pernah sebelumnya aku terjun dalam medan dakwah sampai pada taraf yang seperti ini, dulu aku tak terlalu peduli dengan hakikat dakwah sebenarnya. Beginilah hakikat dakwah yang sebenarnya, banyak yang akan menyurutkan, mungkin banyak juga yang berjatuhan. Tapi juga akan ada banyak yang menyemangati. Karena kita satu visi.

Inilah hikmah yang kudapat dari kegagalanku. Alloh benar-benar menyentuh hatiku dengan begitu lembut, hingga aku baru menyadari disinilah tempatku, disinilah kutemukan segala yang tak kutemui ditempat-tempat lain. Kutemukan dakwah ini, Kutemukan sosok saudara-saudara yang luar biasa. Seperti apa yang dikatakan oleh ustadz Salim “inilah ruh-ruh yang diakrabkan iman, dan  begitulah ruh-ruh kita diakrabkan”. Ya, Beginilah ruh-ruh kita diakrabkan, di jalan Dakwah ini juga di KAMMI.  Bagiku, KAMMI adalah kado terindah atas kegagalanku.

*Kader KAMMI AB I Angkatan 2011, Staff Kaderisasi 2012-2013, Tadris Fisika/Tarbiyah

Pos ini dipublikasikan di CERITA KAMMI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s