Indahnya Bersama KAMMI

Oleh: M. Luqmanul Hakim*

Pagi yang sangat cerah sekali dan hari pertamaku masuk kuliah membuatku semangat. Saat itu, setelah saya megikuti kuliah, saya disodori sebuah brosur Dauroh Marhalah I dari temenku, yaitu Saifullah Aminudin.

“ya saya baca dulu brosurnya dan tak pikir-pikir, kalu cocok nanti saya daftar”. Ucapku kepada temanku.

“oke luqman, aku tunggu” kata temanku.

Setelah saya mendapatkan brosur, aku konsultasikan kepada temenku yang satu tempat tinggal dimasjid. Dan kebetulan dia juga pernah ikut KAMMI, dan saya disarankan agar ikut KAMMI aja. Waktu itu saya mengikuti sarannya aja. Selain itu saya diperkuat dengan temen-temenku yang satu kelas ada  lima anak yang ikut DM I di KAMMI.

…###…

        Tibahlah saatnya waktu kegiatan DM I, lalu aku baca brosur lagi tempat kumpulnya di masjid Kampus III. Waktu itu saya binggung mau tanya siapa, karena sebelumnya saya tidak kenal dengan orang KAMMI. Beberapa jam kemudian saya tunggu kok masih sepi dimasjid tidak ada anak KAMMI yang menghampiri saya ya…!!!. kemudian saya tnunggu dengan jam 3. Kemudaian saya berubah pikiran ingin membatalkan mengikuti DM I kalu tidak ada anak KAMMI, tiba-tiba ada orang mengenakan jaket merah bertuliskan KAMMI di punggungnya. Lalu saya tanya…

“mas dari KAMMI ya?

“ya dik, adiknya mahasiswa baru ya…? mau ikut DM I ?” Katanya sambil menjbatkan tangannya.

“ya mas saya mau ikut DM I” jawabku balik

Kemudian saya dia ajak naik bis menuju lokasi DM I yaitu di derah Boja, tempatnya lumayan jauh dan memakan waktu sekitar 40 menit. Sampai di tempat lokasi saya dimintak panitia mengikuti acara opening. Saat itulah saya merasakan sesuatu yang berbeda ketika ada pekikan takbir “Allahu Akbar” serentak panitia dan peserta bersama.       Kemudian acara berlangsung dengan baik. Saat itulah aku menemukan sesuatu yang berbeda tapi mebuatku nyaman, yaitu ruhiah dan Ukhuwah anak-anak KAMMI yang kental sekali. Berbeda ketika saat aku mengkuti Bimtes di PMII, ruhiahnya sangat kurang, kegiatan cuma senang-senang saja. Bahkan waktu sholat diabaikan, kalu malam pada main gitaran, rokokan dan ngopi-ngopi mebut ruhiahku kering. Tapi aku meraskan suatu yang indah ketika di KAMMI, yaitu mengutamakan sholat tepat waktu, mengisi waktu luang dengan tilawah dan mebaca buku, inilah yang membuat saya nyaman.

Ada suatu hal yang membuat aku delematis, ketika itu aku harus meninggalkan kegiatan DM I, karena harus mengikuti study tour ke Jogjakarta. Waktu itu hanya mengikuti materi Syahadatain saja. Setelah pulang study tour saya kembali kelokasi DM I untuk melanjutkan. Ternyata waktu itu kegiatan simulasi aksinya sudah selesai tinggal penututupan dan pengumuman kelulusan peserta DM I, dan dari hasil pengumuman tersebut saya dinyatakan lulus bersarat. Dengan hasil pengumuman tersebut membuatku merasa kecewa dan sedih. Saat itulah saya menyadari apa yang telah menjadi konsekuensi saya karena tidak mengikuti kegiatan dengan baik. Peristiwa itualah menjadikan batu loncatan saya menjadi semangat untuk berkomitmen menjadi kader yang terbaik di KAMMI. Dan ternyata kelima temenku di kelas yang masih bertahan dan istiqomah di KAMMI hanya saya saja.

…###…

        Setelah saya banyak terjun di KAMMI mulai dari kegaiatan BIMTES, Madrasah KAMMI, Sekolah Pilitik, Traning Jurnalistik, Training Organisasi KAMMI, Baksos, dll. Ada kegiatan yang mebuatku berkesan ketika mengadakan Bhaksos di desa Padaan, kebetulan saya menjadi panitia dan waktu liburan saya harus mengabaikan liburan saya untuk menyelesaikan kegiatan bhaksos, suatu hal yang menyakitkan ketika saya dan akh Ais silahturrahim ke desa Padaan untuk bertemu dengan salah seorang tokoh yang ada dimasyarakat. Mau mintak izin mengadakan Bhaksos. Ternyata respon dari tokoh masyrakat itu negatif, menganggap kita ingin menyebarkan aliran baru disana. Dan samapai daianggap aliran sesat.

Setelah saya berdiskusi dan saya jelaskan kegiatan kita murni kegiatan sosial, kemudian saya lihatkan program-programnya, yaitu: pengobatan geratis, bazar murah, lomba-lomba, ngajar TPQ, pentas seni anak-anak, kerjabakti dan Pengajian Umum. Akahirnya kita diterima di desa tersebut untuk mengadakan Bhaksos.

Suatu hal yang memberatkan panitia yaitu ketika menentukan pembicara dalam pengajian umum. Kita harus menyesuaiakan kriteria pembicara atau kiyai yang desenangi oleh masyarakat disana. Dengan waktu yang sangat singkat cuma dua hari saja. Saya harus keliling kota semarang, gunung pati dan kendal daerah boja untuk mencari kiyai. Bahkan sudah ada sepuluh kiyai yang saya tembusi ternyat tidak bisa semua. Karena waktu yang mepet dan bertepatan pada bulan Maulud sehingga banyak kiyai yang sudah dimintak ngisi. Saya saat itu sudah berjuang habis-habisan waktu tinggal satu hari saja untuk mencari kiya, ini merupakan suatu yang begitu berat dan pikirku dengan akh Ais. Kalu sampai hari ini kita tidak dapat mau kita taruh mana muka kita akh dengan masyarakat. Pengumuman pengajaian sudah disebar dan masyarakat sudah mempersiapkan konsumsi.

Tapi hari itu kita belum juga dapat kiyai, tinggal nanti malam acara berlangsung. Saya dan akh Ais hampir putus asa. Lalu saya mernung dan berdo’a tiba-tiba ada seseorang yang menelpon untuk meberikan refrensi kiyai dan tanpa pikir panjang lalu kami menuju rumahnya kiyai tersebut yang ada di belakang masjid Ngaliyan. Setelah kami samapi rumahnya ternyata kiyainya tersebut tidak ada dirumah hanya istrinya saja. Lalu hati kami terpukul lagi dengan hal itu, akhirnya saya minta nomer telphonnya. Dan Alhamdulillah setelah saya telpon beliau bisa.

Saat itulah saya berfikir ternyata, ketika kita mempunyai kemauan yang kuat pasti Allah SWT akan meberikan jalan. Karena jalan untuk mencapai sebuah tujuan tidak hanya satu jalan. Dan kadang ketika kita gagal dengan jalan yang satu, kita sudah menyerah dan tidak mau mencari jalan yang lain.

Dalam kegitan bhaksos tersebut banyak pengalaman yang saya dapatkan, ternyata berkehidupan dimasyarakat itu tidak mudah, perlu penyesuaian diri. Antara idealitas dan realitas itu kadang tidak sesuai. Dan setiap masyarakat itu pasti mempunyai karakter yang berbeda-beda serta kita harus mepunyai pengalaman untuk menghadapi itu semua.

…###…

        Saya sudah berjalan di KAMMI beberapa tahun akhirnya dimintak sertifikasi untuk mengikuti DM II, dan tidak semua oarang bisa mengikuti DM II perlu proses yang panjang dan perjuangan. Akhirnya dari angkatan 2008 hanya 2 orang yang bisa mengikuti DM II di KAMDA Semarang, satu ikhwan dan satu akhwat. Dan Alhamdulilah saya termasuk orang yang masuk di DM II tersebut. Temen-temen yang satu kelas sudah pada gugur dan mengundurkan diri dari KAMMI.

Di DM II itulah saya mepunyai banyak teman-teman, ada yang dari Banten, Jakarta, Tasikmalaya, Indramayu, Pekalongan, Purwokerto, Jogjakarta, Solo, Magelang dan lain-lain. Selain mendapatkan temen banyak, juga banyak ilmu dan pengalaman. Saat itulah saya menjadi semangat berdiskusi, membaca dan meningkatkan ruhiah. Dan akhirnya saya dapat lulus di DM II walaupun dulunya DM I lulus bersyarat.

…cd…

        Pada bulan Mei tahun 2011 diadakan Musyawarah Komisariat ke X, ada pemilihan ketua baru Komisariat, saya tidak menyangka dalam musyawarah tersebut, saya terpilih menjadi ketua umum KAMMI Komisariat IAIN Walisongo. Saat itulah saya meneteskan air mata. Karena mengemban amanah seorang pemimpin di KAMMI tidak semudah yang kita bayangkan, banyak perjunagan, banyak waktu yang harus kita korbankan, banyak tenaga yang kita harus keluarakan, banya uang yang harus kita infaqkan, banayak fikiran yang harus kita sumbangkan, selain itu kita harus semnagt, dan loyalitas. Menjadi seorang pemimpin KAMMI tidak sekedar pitar menjemen atau mobilisasi tapi harus menjadi teladan bagi yang lainnya.

…###…

        Setelah beberapa bulan menjadi seorang pemimpin, munculah beberapa maslah yang sangat kompleks. Baik maslah internal dan eksternal. Seperti sulitnya mengatur kader, kadang kegiatan tidak berjalan dengan baik. Bahkan kadang samapai gagal, walupun kita sudah berusaha dengan optimal dan dibumbui dengan keritikan-keritikan pedas yang harus saya terima.

Selain itu permaslahan eksternal juga sangat menyakitkan, banyak fitnah yang ditudingkan oleh masyarakat kampus terhadap KAMMI, seperti KAMMI aliran wahabi, aliran keras, sarang teroris dan NII. Saya yakin tudingan yang dilakukan oleh masyrakat kampus itu semua salah. Dan saya berusaha meluruskan dan mebuktikan apa yang ditudingkan kepada KAMMI itu semua salah.

Maslah yang paling berat yaitu Pemilwa. Pemilwah merupakan suatu kegiatan yang banyak menguras tenaga dan pikiran, selain itu harus di imbangi dengan mentalitas yang kuat. Ada pengalaman yang tidak saya lupakan saat Pemilwa. Aktifitas  yang sangat menguras tenaga. Pagi saya harus kuliah, kemudian siangnya saya harus menyiapkan amunisi kamapnye, sorenya saya harus kosolidasi dengan temen-temen partai. Setelah solat isya’ saya konsolidasi lagi dengan temen-temen HMI sampai jam 11 malam, setelah itu dilanjut menyebar dan menempel amunisi kampanye di kampus smapai jam 1 malam, kemudia istirahat sebentar, jam setengah 2 malam saya harus pulang ke Jepara, karena dimintak orang tua untuk pualang.

Saya samapai rumah jam 4 subuh, setelah itu saya tidur sejenak sampai jam setengah 7. Setelah tidur saya dimintak mebantu panen padi di sawah, walaupun badan capek dan letih saya tetap mebantu orang tua. Apa artinya kita bermanfaat bagi orang lain, tapi tidak bermanfaat untuk orang tua. Setelah panen padi disawah sudah selesai, saya harus kembali ke Semarang jam 2 siang karena ada konsolidasi lagi jam 4. Akhirnya saya nyampai Semarang jam 4 sore, setelah itu sholat Ashar dan langsung berangkat konsolidasi. Setelah sholat isa’ saya harus konsolidasi dengan temen-temen Ikhwan untuk stratgi persiapan pemilwa dilapangan dan dilanjut lembur malam lagi untuk mepersiapkan amunisi untuk para saksi-saksi partai. Dan tidur nyampai malam sekitar jam 2.

Esok harinya saya harus mengawal Pemilwa, ternyata ada sebuah kecuranagan TPS ditarbiayah. Kemudaian saya langsung mengambil KTM yang dikumpulin oleh komting kelas yang diserahkan ke TPS. Itu merupakan sebuah kecurangan karena ada paksaan untuk memilih. Trus saya ocar-acer KTM dan saya berantakin meja petugas TPS, tenyata ada banyak anak-anak PMII yang mau megkroyok saya. Setelah itu datang petugas KPM untuk meluruskan kejadian tersebut. Ketua KPM berjanji akan meberi sangsi kepada pelaku kecurangan. Dan saya tetap memantau aktivitas Samapi penghitungan suara dan selesai jam 2 malam dan baru bisa istirahat. Kegiatan yang melelahkan dan meyita waktu istirahat. Subahanallah….

Saat itulah saya meraskan sebuah keindahan, ketika saya cinta terhadap KAMMI. Dengan cintalah menjadikan seuatu menjadi indah. Apa yang saya lakukan masih sedikit untuk KAMMI, dengan apa yang saya dapatkan dari KAMMI. Setelah saya bekomitmen dengan KAMMI, Komunikasi saya menjadi baik, Intelektual saya semakin luas, jaringan saya semakin banyak, kepekaan sosial saya semakin tajam, dan mengetahui makna apa itu, perjuangan yang sejati, kehilasan yang tinggi, dakwah dengan hati, semangat tiada henti dan kedekatan dengan Illahi…., Amin.

 

        *Kader KAMMI AB I Angkatan 2008, Dan AB II Angkatan 2010, Ketua Umum Periode 2011-2012, Bimbingan & Penyuluhan Islam/Dakwah

 

Pos ini dipublikasikan di CERITA KAMMI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s