Khilafiyah Penetapan Awal Ramadhan*

Gambar

Tak terasa beberapa hari lagi umat islam akan menghadapi Ramadhan, Tamu agung sekaligus bulan suci yang penuh rahmat (kasih sayang), magfirah (pengampunan) dan pembebasan dari api neraka. Momentum yang sangat tepat untuk melakukan perubahan dan perbaikan individu dan sosial. Kesempatan berharga untuk melakukan amal kebajikan, pembinaan jiwa, introspeksi diri dan segala bentuk sarana penunjang untuk meningkatkan kualitas ketakwaan di sisi Allah Subhanah wa ta’ala.

 Namun fenomena yang menarik dan terjadi hampir setiap tahunnya adalah sampai saat ini umat islam di Indonesia tidak pernah menemukan kata sepakat untuk penentuan awal ramadhan, atau idhul fithri. Khilafiyah seringkali terjadi dari sekelompok umat islam. Perbedaan itu rahmat. Mungkin itu yang sering kita dengar setiap kali ada khilafiyah mengenai suatu hal. Tapi tetap saja yang terbaik dari yang paling baik adalah persatuan, bukan perpecahan. Oleh karena itu, diperlukan usaha dari pemerintah untuk menyatukan frame tentang kesepakatan awal Ramadhan.

Tujuan utama dari adanya regulasi yang dibuat pemerintah sebenarnya bukanlah untuk memaksakan suatu peraturan kepada masyarakat. Melainkan untuk mencegah terjadinya konflik sosial di lapisan masyarakat bawah. Memang konflik sosial yang muncul dari perbedaan penetapan awal Ramadhan dan lebaran tidak sampai berujung pada pertikaian fisik antar kelompok, kerusuhan atau tindakan anarkis lainnya. Konflik yang timbul memang masih dalam lingkup pertikaian verbal yang dapat kita lihat dengan adanya perang opini yang sempat marak dalam jejaring sosial dan media elektronik. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa hal ini menyebabkan keresahan di masyarakat.

Yusuf Qaradhawi pernah berkata “Jika memang tidak memungkinkan dalam mencapai kesepakatan pada tingkat global, maka setidaknya kita wajib berobsesi untuk bersatu dalam satu kawasan. Tidak boleh terjadi di satu negara atau satu kota kaum Muslim terpecah-pecah, berbeda pendapat dalam masalah penentuan awal Ramadhan atau Hari Raya. Perbedaan dalam satu negara semacam itu, tidak dapat diterima. Kaum Muslim di negara itu harus mengikuti keputusan pemerintahnya, meskipun berbeda dengan negara lain. Sebab, itu termasuk ketaatan terhadap yang ma’ruf.” Sebegitu sulitkah menyingkirkan ego dalam menghadapi perbedaan pandangan demi hal yang lebih besar yaitu kemaslahatan masyarakat?

Islam mengakui adanya perbedaan pendapat, selama memang pendapat tersebut tetap berlandaskan dari Al Qur’an dan Sunnah. Tapi sejatinya Islam menghendaki adanya persatuan agar umatnya jangan berpecah belah dan berselisih karena itu hanya akan melemahkan kita. Para salafus shalih pun sudah pernah mencontohkan bahwa berkompromi dengan hal yang khilafiyah bukanlah suatu hal sulit. Al khuruj minal khilaf mustahabbun, keluar dari permasalahan khilafiyah itu lebih disukai.

Yang jadi pertanyaan sekarang, bisakah umat islam bersatu dalam penanggalan hijriyah? Kenapa ada khilafiyah? Bagaimana Rasulullah menetapkan awal Ramadhan? Harus bagaimana menanggapi hal seperti ini? Terlepas dari itu semua, yang terpenting adalah sebagai seorang terpelajar kita tidak boleh hanya ikut-ikutan atau taqlid buta tanpa mengetahui dasar dalilnya. Menggali dan mencari tahu adalah tugas kita.

NB :* Tema yang akan didiskusikan pada hari Selasa, 2 Juni 2013 disamping audit kampus3

By : Departemen Kastrat KAMMI IAIN Walisongo

Pos ini dipublikasikan di Departemen Hubungan Masyarakat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s