Concept Map; Solusi jitu Hadapi UAS

Gambar

Masih ingatkah anda akan lagu penyambutan lebaran dengan lirik “lebaran sebentar lagi, berpuasa dengan gembira”. Dalam lirik tersebut mengandung arti penyambutan datangnya hari raya idul fitri disertai menikmati kebahagiaan detik-detik purna puasa. Namun, lagu tersebut akan memiliki makna yang berbeda apabila kata-kata dalam liriknya digubah menjadi “Ujian Akhir Semester (UAS) sebentar lagi, belajar dengan sungguh-sungguh”.Nampaknya, dalam pekan keempat di bulan juni ini para mahasiswa di beberapa Perguruan Tinggi (PT) tengah disibukkan dengan persiapan untuk mengahadapi UAS. Meskipun banyak PT yang telah selesai melaksanakan UAS, namun ada pula PT yang akan menyelenggarakan UAS pada selasa (2/07) besok. Salah satunya adalah kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN)Walisongo Semarang.Saat ini penyelenggaraan UAS baik di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Fakultas Syari’ah dan Ekonomi Islam (FSEI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) maupun Fakultas Ushuluddin (FU) dilaksanakan secara terjadwal. Meskipun tidak dimulai secara bebarengan, akan tetapi keterjadwalan tersebut dapat menekan ketidaktertiban dan ketidakdisiplinan dalam pelaksanaannya nanti.

Kenapa perlu diselenggarakan UAS? Jika dipahami bersama bahwa UAS sangatlah identik dengan upaya evaluasi pendidikan. Menurut Prof. Burhanuddin Salam bahwa titik fokus dari proses teknis perumusan pendidikan adalah proses perubahan tingkah laku yang pada hakikatnya adalah pengukuran terhadap perubahan. Karena telah disetujui adanya perbedaan individual si-terdidik (mahasiswa) di dalam minat, bakat, motivasi, kemampuan, dan pengaruh lain-lain. Maka untuk mempermudah pendugaan bahwa pada akhir sebuah pelajaran, setiap mahasiswa pasti memperlihatkan suatu hasil (perbuatan) yang berbeda pula.Bisa dikatakan UAS adalah salah satu alat yang paling tepat untuk meramalkan atau memprediksi sejauh mana perubahan yang terjadi atas apa yang telah ia peroleh selama mengikuti proses perkuliahan. ”Pemberian suatu tes diadakan sebagai alat untuk mengumpulkan keterangan yang dapat diapakai sebagai peramalan mengenai si-terdidik (mahasiswa),” tambah Prof. Burhanuddin.

Dalam menghadapi UAS, terdapat bermacam sikap dari masing-masing mahasiswa; ada yang bersikap tenang-tenang saja, ada pula yang bersikap cemas, khawatir dan sebagainya. Bagi mahasiswa yang bersikap cemas, khawatir, sudah jelas akan mengalami ketidaktenangan (ketegangan dalam menghadapi ujian, belajar yang tidak teratur) maka materi pelajaran belum terbaca, dan belajar tidak dapat dipaksakan dalam waktu yang singkat. Model sikap ini tentunya akan merugikan mahasiswa yang bersangkutan, karena kecemasan akan memiliki dampak psikologis yang sangat luar biasa. Sehingga nantinya akan berimplikasi pada pengerjaan tes dan hasil UAS yang diperoleh. Tentunya model sikap ini jangan sampai menjangkiti diri kita. Selanjutnya, bagi mahasiswa yang bersikap “tenang” masih dapat dibagi menjadi dua kondisi, yaitu pertama: Sikap tenang dengan acuh tak acuh. Pada saat ujian sudah dekat akan bertindak ”belajar keras” dalam waktu yang relatif singkat, maka akibatnya kurang tidur, mengantuk, dan akhirnya dalam mengerjakan soal-soal ujian kurang atau tidak tenang. Kedua: Sikap tenang karena sudah siap, sudah berisi, maka dalam menghadapi ujian sudah dekat, tindak selanjutnya tinggal memantapkan; dan karena sudah percaya pada diri sendiri, maka dalam mengerjakan soal-soal ujian semester dikerjakan dengan tenang.

Concept Map Methode

   Tidak bisa dipungkiri, bahwa di antara kita pasti termasuk salah satu dari beberapa model sikap di atas.Entah itu model sikap tenang karena sudah siap dan berisi, sikap tenang dengan acuh tak acuh, ataupun sikap cemas dan khawatir. Dan bisa dikatakan hasil UAS yang akan didapatkan akan berbanding lurus dari ketiga model sikap tersebut. Atau dengan kata lain, hasil akan yang diperoleh akan berbanding lurus dengan usaha yang dilakukan. Ketika UAS dipersiapkan dengan ikhtiar sebaik mungkin maka bisa dipastikan hasilnyapun akan baik, begitu pula sebaliknya.Akan tetapi, semua mahasiswa, entah siapapun dia dan bagaimana model sikap yang ada pada dirinya pasti menginginkan hasil UAS yang bagus, setidak-tidaknya bisa memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) diatas 3,00. Oleh karena itu, ada tips sederhana yang bisa dikatakan efektif dan efisien dan dapat diterapkan oleh semua mahasiswa dengan berbagai model sikap di atas. Yaitu menerapkan belajar dengan metode “Concept Map”. Kenapa belajar dengan menerapkan metode tersebut? Karena metode tersebut tidak hanya menitikberatkan pada ranah otak kiri, akan tetapi mencoba menyeimbangkan antara peran otak kiri dengan otak kanan. Metode ini persis dengan metode “Life Mapping”, di mana poin-poin materi kuliah diklasifikasikan dalam sebuah gambar peta dengan disertai gambar atau simbol-simbol yang padat akan makna. Sehingga UAS bukan lagi menjadi hal yang perlu dicemaskan, akan tetapi harus dihadapi dengan penuh optimistime yang tinggi. Selamat mencoba dan menerapkan!

 

Penulis : Purwowidodo I staf Humas KAMMI Komsat IAIN Walisongo 2013-2014

Gambar : http://skatersklk.blogspot.com

Pos ini dipublikasikan di Departemen Hubungan Masyarakat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s