BBM Naik, Solusikah?*

Gambar

Dalam Preambule UUD 1945 disebutkan bahwa tujuan negara diantaranya melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Sungguh mulia tujuan itu. Seandainya semua dapat  terealisasikan, maka akan majulah negara ini. Namun sayang, untuk mencapainya tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh usaha dan perjuangan keras. Oleh karenanya, Negara ini butuh pemimpin yang dapat mengantarkan Indonesia kepada kesejahteraan rakyat di semua strata sosial. Tidak hanya semakin mengkayakan yang kaya, tapi juga harus mensejahterakan yang miskin.

Untuk masalah kesejahteraan rakyat, inilah yang musti benar-benar diperhatikan. Karena memang rakyat adalah objek utama dalam kemajuan negara. Indonesia kali ini sedang mengalami kebingungan akbar. Pemimpin kita masih berpikir panjang untuk sekedar menentukan naik atau tetapnya harga BBM. Rencana kenaikaan BBM bersubsidi, yakni premium menjadi Rp 6500/liter dan solar Rp 5500/liter pada pertengahan Juni ini menuai pro-kontra dari berbagai kalangan. Pemerintah memang sangat berhati-hati untuk memutuskannya. Namun masyarakat juga butuh segera mendapatkan kepastian agar tak menimbulkan keresahan. Karena memang rakyat kecillah yang nantinya akan merasakan dampak terbesar dari kenaikan BBM.

Mereka yang mendukung harga BBM naik berdalih bahwa kenaikan harga BBM dinilai perlu dilakukan mengingat semakin tingginya tingkat konsumsi masyarakat. Kemudian kenaikan harga BBM subsidi diperlukan untuk menjaga kestabilan ekonomi Indonesia. Bila BBM tidak dinaikkan, maka juga akan membebani APBN.  Kuota BBM  bersubsidi pun selalu jebol. Tahun 2010, pemerintah menyediakan 39 juta kilo liter, tetapi jebol menjadi 40,5 juta kilo liter. Pada 2011, 41 juta kilo liter, jebol menjadi 43 juta kilo liter. Pada 2012, 45 juta kiloliter jebol jadi 46 juta kilo liter. Dan tahun ini, 46 juta kilo liter, pemerintah mau menaikkan lagi menjadi 48 juta kilo liter. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak bumi, akan tetapi lumbung minyak di tanah air ini banyak dikelola oleh perusahaan asing. Sehingga kita masih perlu banyak impor ke luar nagri. Untuk itu, Pemerintah telah menetapkan empat bentuk kompensasi kenaikan harga BBM yang akan diberikan kepada warga miskin, yakni beras miskin (raskin), Program Keluarga Harapan (PKH), beasiswa, dan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Hingga kini pemberian kompensasi jenis BLSM masih menuai pro dan kontra, sehingga membutuhkan sosialisasi lebih.

Walaupun Presiden SBY memastikan bahwa Pemerintah  akan menaikkan harga BBM, tapi kelihatannya masih galau.  Kegalauan SBY  untuk menaikan harga BBM karena dipastikan kebijakan ini akan mendapat penolakan dari masyarakat dan akan menambah orang miskin baru. Karena nantinya jika BBM naik, harga kebutuhan sehari-hari juga akan naik. Hal ini berimbas cukup signifikan terhadap peningkatan angka kemiskinan. Meski pemerintah berjanji untuk memberikan kompensasi pada masyarakat kecil, namun dampaknya dinilai tidak akan maksimal. Kompensasi yang bertujuan sebagai jaring pengaman agar masyarakat miskin tidak semakin jatuh ke jurang kemiskinan justru berpotensi dimanfaatkan oleh agenda politik. Pasalnya, dalam waktu dekat Indonesia akan memasuki masa pemilihan umum (pemilu).

Kebutuhan akan komoditas BBM sudah menyentuh semua aspek kehidupan dan otomatis akan berpengaruh pada harga barang atau jasa lainnya, bahkan sebelum ada kepastian kenaikan harga BBM. Kenaikan harga BBM yang disertai dengan peningkatan harga barang juga berimplikasi pada menurunnya daya beli masyarakat.

Selain itu, kenaikan harga BBM bersubsidi akan membuat biaya produksi usaha bertambah. Hal ini menimbulkan pengusaha mengurangi beban usaha, salah satunya dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). PHK tentunya akan menimbulkan angka pengangguran meningkat. Usaha kecil juga menjadi sektor yang paling terpukul akibat dampak kenaikan harga BBM ini. Sektor ini mengalami penambahan beban produksi terbesar. Dengan modal secukupnya ditambah beban produksi yang bertambah diyakini akan membuat sektor usaha kecil gulung tikar.

            Yang menjadi pertanyaan sekarang, haruskah naiknya harga BBM  menjadi solusi akhir? Atau mungkin masih ada alternatif lain?

 

*Tema diskusi pada hari Selasa, 4 Juni 2013 pkl 16.00 WIB

By: Departemen Kastrat KAMMI IAIN Walisongo Semarang

Pos ini dipublikasikan di Departemen Hubungan Masyarakat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s