Islamisasi Demokrasi

Gambar

Perdebatan panjang perihal demokrasi dalam Islam atau bagaimana Islam memandang demokrasi memang menjadi satu topik yang masih ‘asyik’ untuk didiskusikan bersama. Al-Qur’an dan hadits tentunya menjadi rujukan dalam menyikapi hal ini, bahkan pendapat para ahli pun dinukil. Jadilah bagaimana kemudian (dalam perspektif Islam) demokrasi bisa diterima atau ditolak, atau bahkan tidak ditolak dan tidak pula diterima, atau???

Demos (orang) ; kratos (aturan) è aturan-aturan yang dibentuk oleh orang (manusia), baik secara monarki maupun oligarki. Kurang lebih demikianlah definisi demokrasi jika diuraikan secara terminologi, karena memang tidak ada definisi yang pasti tentang demokrasi sesungguhnya. Beberapa tokoh atau para ahli hanya dapat memberikan batasan-batasan, atau karakteristik demokrasi, misalnya Sadek. J. Sulayman (oleh M.A.Yusri), dalam demokrasi terdapat beberapa prinsip baku yang harus diaplikasikan dalam sebuah negara demokrasi, di antaranya; kebebasan berbicara bagi seluruh warga, pemimpin dipilih secara langsung yang dikenal di Indonesia dengan pemilu, kekuasaan dipegang oleh suara mayoritas tanpa mengabaikan yang minoritas, semua harus tunduk pada hukum atau yang dikenal dengan supremasi hukum. 

Sementara itu prinsip-prinsip dasar siasah (politik) dalam Islam meliputi antara lain; musyawarah, pembahasan bersama, tujuan bersama untuk mencapai suatu keputusan, keputusan itu merupakan penyelesaian dari suatu masalah yang dihadapi bersama, keadilan, al-musaawah (persamaan), al-hurriyah (kemerdekaan/kebebasan), perlindungan jiwa raga dan harta masyarakat. Menurut DR. Yusuf Qardhawi substansi demokrasi sejalan dengan  Islam, hal ini bisa dilihat dari beberapa hal, misalnya:

  1. Proses pemilihan pemimpin yang dipilih secara langsung oleh rakyat banyak, dan dalam Islam hal ini contohnya menjadi imam shalat saja Islam melarang imam yang tidak disukai oleh makmumnya.
  2. Pemilihan umum termasuk pemberian saksi, maka dari itu barang siapa yang menolak untuk ikut dalam pemilihan dan kandidat yang baik kalah karena banyak yang tidak ikut serta dalam prpses pemilihan maka yang menang adalah kandidat yang tidak selayaknya, maka orang ini melanggar ajaran Allah SWT. untuk memberikan kesaksian saat dibutuhkan. 
  3. Penetapan hukum yang berdasarkan suara mayoritas, dalam Islam ada istilah syura. Yaitu musyawarah. Al-Qur’an menjelaskan tentang anjuran musyawarah namun hal yang penting untuk diperhatikan juga adalah adab-adab syura dan kriteria orang-orang yang turut memberikan putusan dalam suatu majelis musyawarah, sebagaimana yang termaktub dalam QS.as-Syura: 38 (“Dan orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka) dan QS.Ali Imran: 159 (…karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu..).
  4. Kebebasan pers dan kebebasan mengeluarkan pendapat, serta otoritas pengadilan merupakan sejumlah hal dalam demokrasi yang sejalan dengan Islam.

Berdasarkan uraian di atas, maka tidaklah berlebihan jika kemudian disimpulkan bahwa demokrasi memuat beberapa prinsip dasar siasah dalam Islam, atau dapat berarti pula sebaliknya bahwa Islam dalam hal mengatur suatu negara memiliki beberapa kriteria seperti halnya demokrasi. Namun demikian, Islam dan demokrasi (Barat) merupakan dua hal yang berbeda alias tidak sama persis. Perlu upaya dalam memahami bahwa prinsip kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat tidak berarti melupakan agama. Agar parlemen sebagai salah satu pilar demokrasi tidak mudah menetapkan hukum yang bertentangan dengan nilai agama meskipun mayoritas anggotanya menghendaki. Pada praktiknya, perlu adanya Islamisasi dalam paham demokrasi agar tidak terjadi kemenangan sekularisme atas agama yang menyebabkan demokrasi modern menjadi kehilangan sisi spiritualnya dan tidak memiliki basis moral yakni jauh dari etika. Wa Allahu a’lamu bii asshawab. (Kahilah)

 

By: Departemen Kastrat KAMMI IAIN Walisongo 

Pos ini dipublikasikan di Departemen Hubungan Masyarakat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s