Sulitnya Membongkar Si Merah

Gambar

Perhelatan pesta demokrasi Jawa Tengah baru saja berlangsung kemarin, Minggu, 26 Mei 2013. Ajang lima tahunan ini hendaknya dimanfaatkan masyarakat untuk menentukan masa depan Jateng selanjutnya. Pilgub bukan soal kompetisi, tetapi menjadi pertaruhan nasib Jawa Tengah untuk tahun 2013 hingga 2018 mendatang. Oleh karena itu, sosok yang akan menjadi pemimpin seharusnya memperbaiki niat awal untuk membawa Jawa Tengah menuju perubahan yang lebih baik, bukan hanya melakukan segala cara demi memenangkan kekuasaan. Jangan sampai pula budaya money politic dijadikan jalan untuk pensosialisasian. Itu sudah tidak zamannya lagi dan tidak mencerminkan sistem demokrasi yang bersih. Bolehlah mereka berkoar-koar menyampaikan janji yang muluk-muluk. Tapi ingat! Janji bukanlah senjata ampuh untuk mendapatkan simpati masyarakat. Sudah sering mereka terkhianati oleh janji manis calon pemimpin. Dan buktinya, nonsense. Hanya pembuktianlah yang dibutuhkan masyarakat.

Kembali ke soal demokrasi, demokrasi berarti dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Imbasnya semua akan kembali kepada rakyat. Bila rakyat memilih pemimpin yang benar, maka rakyat juga akan mendapatkan perlakuan yang baik. Begitu pula sebaliknya. Pemilihan yang didasarkan atas jalan kecurangan hanya akan membuat rakyat menelan hasil kebohongan dari seorang pemimpin. Yang jadi masalahnya sekarang, bagaimana bila para figur yang mencalonkan diri tidak sesuai dengan kriteria yang kita inginkan? Tetaplah “memilih” sebagai bentuk penghormatan kepada demokrasi. Pasti ada satu yang paling condong dengan kebaikan.

Dalam Pilgub Jateng kali ini, kesadaran masyarakat terhadap demokrasi masih sangat minim. Buktinya masih banyak dari mereka yang memilih berdiam diri di rumah alias golput. Banyak TPS yang sepi dari para pemilih. Golput memang masih menjadi pilihan favorit ketika masyarakat bingung terhadap calon-calon yang akan dipilihnya. Kurangnya sosialisasi juga menjadi alasan kenapa mereka tidak tahu mengenai identitas dan karakter masing-masing calon. Jangankan mengetahui visi-misi para calon gubernur, tak sedikit dari mereka yang malah tidak tahu siapa yang nyalon berikut nomor urutnya. Inilah arti penting dari sebuah sosialisasi.

Karena pentingnya sosialisasi, seharusnya Pemerintah Daerah membentuk suatu badan sosialisasi terkait pemilu. Mungkin memang akan menambah biaya pengeluaran APBD. Namun demi kebaikan dan terlaksananya demokrasi secara merata, kiranya tidak masalah bila badan sosialisasi dibentuk. Badan ini nanti diharapkan akan memberikan semacam motivasi tentang arti pentingnya memilih bagi masyarakat, khususnya masyarakat yang kurang berpendidikan. Kemudian juga memberikan penjelasan mengenai latar belakang calon, bukan kampanye. Untuk mereka yang merasa berpendidikan, sangat tidak layak kalau memilih jalur golput sebagai pelampiasan kekesalan terhadap para calon yang tidak ada kecocokan. Untuk para mahasiswa, buktikan kalau kita adalah seorang yang idealis dan tahu tentang demokrasi. Mahasiswa menjadi contoh masyarakat untuk menjalankan roda demokrasi Indonesia.

Dalam Pemilihan Gubernur Jawa Tengah kali ini, Si merah masih sangat sulit untuk dibongkar. Jawa Tengah memang masih basisnya orang-orang berkepala banteng. Pemimpin yang berjiwa Soekarnoisme masih diidam-idamkan masyarakat. Apalagi dengan munculnya sosok figur Jokowi yang mampu membuat gebrakan besar di kota metropolitan, Jakarta. Negara ini memang membutuhakan semacam jokowi-jokowi yang lain untuk menjadi seorang pemimpin, tak terkecuali masyarakat Jawa Tengah. Pemimpin yang suka berblusuk-ria menjadi pilihan masyarakat. Tak perlu banyak janji, yang dibutuhkan hanya bukti.

Kemenangan partai nasionalis untuk yang kesekian kalinya di Jawa Tengah menunjukkan bahwa partai yang berbau agama dan dakwah belum bisa menarik simpatisan 27 juta jiwa masyarakat Jateng secara umum. Musyawaroh Nasional (Munas) salah satu partai dakwah yang diadakan di Ibu kota propinsi ini juga tak berpengaruh besar. Menjadi PR bagi partai yang berbasis agama untuk mencari strategi jitu lain demi menarik simpati masyarakat Jawa Tengah ke depan.

Entah masih adakah kesempatan islam untuk menduduki kekhilafahan. Untuk sementara memang masih sangat sulit. Tapi bukan berarti kita patah semangat untuk maju lagi. Innallaha ma’ash shobirin. Allah bersama hamba-hambanya yang sabar. Marilah kita ambil hikmah dari segala sesuatu yang terjadi pada islam. Kekalahan ini tidak bersifat permanen, hanya sementara.

Untuk Bapak gubernur baru, kita hanya berharap engkau mampu membawa Jawa Tengah menjadi lebih baik. Ada satu janji yang kita tangkap dari perkataanmu. Engkau akan memperbaiki jalan-jalan yang rusak. Mohon untuk direalisasikan. Mungkin itu harapan yang sepele. Tapi menjadi suatu yang sangat berarti bagi masyarakat kecil yang membutuhkan perbaikan. Janjimu untuk mboten korupsi lan mboten ngapusi juga akan kami pegang erat-erat. Jangan biarkan tikus-tikus berdasi berkeliaran di kantor pemerintahanmu. Buktikan bahwa engkau pro rakyat kecil. Dan semoga Jawa Tengah menjadi propinsi yang maju. Aamiin……

 By: Departemen Kastrat KAMMI IAIN Walisongo 

Pos ini dipublikasikan di Departemen Hubungan Masyarakat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s