Apa Itu Zakat?

Makna zakat secara etimologis, berasal dari penggalan ayat berikut.

ﺧﺬ ‌ﻣﻦ‌ اﻣﻮاﻟﻬﻢ ‌‌ﺻﺪﻗﺔ ‌‌‌ﺗﻄﻬﺮ‌ﻫﻢ‌ و ﺗﺰﻛﯿﻬﻢ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka , dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka……”(QS 9: 103)

Adapun zakat menurut syara’, berarti hak yang wajib dikeluarkan dari harta. Mazhab Maliki mendefinisikannya dengan, “Mengeluarkan harta yang khusus dari harta yang khusus pula yang telah mencapai nishab (batas kuantitas yang mewajibkan zakat) kepada orang orang yang berhak menerimanya (mustahiqq).

Mazhab Hanafi mendefinisikan zakat dengan, “Menjadikan sebagian harta yang khusus dari harta yang khusus sebagai milik orang yang khusus, yang ditentukan oleh syari’at karena Allah swt.”.

Menurut mazab Syafi’i, “zakat adalah sebuah unkapan untuk keluarnya harta atau tubuh sesuai dengan cara khusus”.

Sedangkan menurut mazhab Hanbali, “zakat ialah hak yang wajib (dikeluarkan) dari harta yang khusus untuk kelompok yang khusus pula”

  1. Jenis Harta Yang Wajib Dikeluarkan Zakatnya
    1. Zakat Emas dan Perak

Untuk hal ini, zakat emas dan perak terbagi dalam dua pembahasan yaitu: Zakat uang dan persyaratannya,dan zakat perhiasan dan hadiah.

  1. Zakat uang, besar zakat uang yang telah disepakati adalah sebesar 2.5%.

  2. Zakat

  • Zakat Binatang Ternak

  • Dunia binatang sangatlah luas dan banyak jenisnya, namun yang wajib dizakati adalah yang disebut orang arab dengan istilah an’am yaitu: unta, sapi, kerbau, biri-biri, dan kambing.1

    1. Zakat Kekayaan Dagang

    Seseorang yang memiliki kekayaan perdagangan, masanya sudah berlaku setahun, dan nilainya sudah sampai senisab pada akhir tahun itu, maka orang itu wajib mengeluarkan zakatnya sebesar 2.5%, dihitung dari modal dan keuntungan, bukan dari keuntungan saja.2

    1. Zakat Pertanian

    Zakat ini berbeda dari zakat kekayaan- kekayaan yang lain, seperti ternak, uang dan barang- barang dagang. Perbedaan itu adalah zakatnya tidak bergantung dari berlalunya tempo satu tahun, oleh karena benda yang dizakatkan itu merupakan produksi atau hasil yang diberikan oleh tanah, artinya bila produksi itu diperoleh, yang merupakan wajibnya zakat. Dalam istilah modern sekarang, zakat itu merupakan produksi yang diperoleh dari eksploitasi tanah. Sedangkan zakat atas kekayaan- kekayaan yang lain merupakan pajak yang dikenakan atas modal atau pokok kekayaan itu sendiri, berkembang tau tidak berkembang.

    Penerima dan Penyebaran Zakat

    Pada ayat 60 surah al- Tawbah, dijelaskan kelompok- kelompok yang berhak menerima zakat, yaitu firman Allah swt.,

     “Sesungguhnya zakat- zakat itu hanyalah untuk orang- orang fakir, orang- orang miskin, pengurus- pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan budak), orang- orang berhutang, untuk jalan Allah dan orang- orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS 9: 60)

    Berkut penjelasan mengenai kelompok- kelompok penerima zakat.

    1. Orang Fakir (al- fuqara’)

    Al- fuqara’ adalah bentuk dari kata al- faqir. Menurut mazhab syafi’i dan hanbali, al- faqir adalah orang yang tidak memiliki harta benda dan pekerjaan yang mampu mencukupi kebutuhannya sehari- hari.

    1. Orang Miskin (al- Masakin)

    Al- masakin adalah bentuk jamak dari kata almiskin. Orang miskin ialah orang yang memiliki pekerjaan, tetapi penghasilannya tidak dapat dipakai untuk memenuhi hajat hidupnya.

    1. Panitia Zakat (al- ‘Amil)

    Panitia zakat adalah orang- orang yang bekerja memungut zakat. Panitia ini di syaratkan harus memiliki sifat kejujuran dan menguasai hukum zakat.

    1. Para Mu’allaf yang Perlu Ditundukkan Hatinya

    Yang masuk dalam kelompok ini antara lain orang- orang yang lemah niatnya untuk memasuki islam. Mereka diberi bagian dari zakat agar niat mereka memasuki islam menjadi kuat. Mereka terdisi atas dua macam: Muslim dan Kafir.

    1. Para Budak

    Para budak yang dimaksud di sini, menurut jumhur ulama, ialah para budak muslim yang telah membuat perjanjian dengan tuannya untuk dimerdekakan dan tidak memiliki uang untuk membayar tebusan atas diri mereka, meskipun mereka telah bekerja keras dan membanting tulang mati- matian.

    1. Orang yang Memiliki Hutang

    Mereka adalah orang- oarang yang memiliki hutang, baik hutang itu untu dirinya sendiri maupun bukan, baik hutang itu dipergunakan untuk hal- hal yang baik dan tidak untuk melakukan kemaksiatan.

    1. Orang yang Berjuang di Jalan Allah (Fi Sabilillah)

    Yang termasuk dalam kelompok ini ialah para pejuang yang berperang di jalan Allah yang tidak digaji oeh markas komando mereka karena yang mereka lakukan hanyalah berperang.

    1. Orang yang Sedang dalam Perjalanan

    Orang yang sedang melakukan dalah orang- orang yang berpergian (musafir) untuk melaksanakn suatu hal yang baik tidak termasuk maksiat. Dia diperkirakan

    Adab Berzakat dan Larangannya

    Ibn Jazi al- Maliki mengatakan bahwa larangan- larangan berzakat ada tiga macam.

    1. Dilarang menyertai zakat dengan menyebut- nyebutnya dan melukai perasaan orang yang menerimanya. Menyebut- nyebut sedekah yang diberikan akan menghilangkan pahalanya.

    2. Mengambil zakat yang telh dikeluarkan.

    3. Mengumpulkan (yang dilakukan oleh panitia zakat) orang- orang yang hendak menerima zakat. Seharusnya, mereka menerima zakat itu pada tempatnya masing- masing.

    Sedangkan Ibn Jazy juga menambahkan enam hal dalam mengeluarkan zakat:

    1. Dia mengeluarkan zakat dari barang yang dia anggap paling baik.

    2. Dan

    3. Dia mengeluarkan zakat dari hasil kerja yang paling baik, paling halal, paling bagus, dan dari barang yang paling dicintai.

    4. Dianjurkan bagi orang yang hendak mengeluarkan zakat untuk menyembunyikan amalnya itu dihadapan manusia.

    5. Dianjurkan untuk mewakilkan pemberian zakatnya kepada orang lain karena dikhawatirkan adanya keinginan untuk dipuji.

    6. Ketika memberika zakatnya, sang muzakki dianjurkan untuk berdoa, “Ya Allah, jadikanlah ia simpanan bagi kami, dan jangan jadikan ia sebagai hutang kami.”, dan penerima zakatnya hendak mengatakan, “semoga Allah memberikan pahala atas apa yang engkau berikan. Dan Dia memberikan berkah kepada hartamu yang masih ada, dan menjadikan pemberianmu ini sebagain kesucian.”

     Boleh juga menambahkan adab yang lain, misalnya:

    1. Memilih orang yang menerima zakat itu orang yag takwa, memiliki ilmu, orang yang tidak menampakkan kefakirannya, dan masih sanak kerabatnya.

    2. Bersegeralah mengeluarkan zakat ebagai sikap ketaatan kepada Allah swt.

    3. Menurut mazhab Hanafi, disunatkan membayar zakat kepada orang fakir yang sangat memerlukan tuk memenuhi semua keperluannya dan keluarganya sehari- hari.

    4. Tidak diperlukan pemberitahuan kepada orang fakir bahwa pemberiannya adalah zakat.

    Pos ini dipublikasikan di Taujih Ketua Komisariat. Tandai permalink.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s