Menengok Sejarah : Mengembalikan Sistem Ekonomi Syari’ah

            Elektron senantiasa mengitari inti atom, menyebabkan keseimbangan unsur-unsur di alam semesta. Proses fisi dan fusi Uranium di matahari menjadikannya selalu bersinar terang menyinari tata surya. Perputaran bumi pada porosnya menunutun kita menjalani pergantian siang dan malam mengiringi dinamika peradaban. Itulah sunnatullah. Takkan pernah ada manusia yang dapat merubahnya kecuali Allah SWT. Segala sesuatu di alam semesta adalah ciptaan. Hanya Dia-lah sang pencipta. Setiap ciptaan memiliki sunnatullahnya masing-masing. Manusia juga memiliki sunnatullahnya sendiri untuk menjalani kehidupan dimuka bumi. Antara lain: manusia diciptakan untuk menyembah kepada-Nya, sebagai khalifah dimuka bumi, dan sebagai pelaku dinamika peradaban.

            Setelah perang dunia II, kejayaan suatu bangsa diukur dari kemajuan perekonomian bangsa tersebut. Semakin tinggi pendapatan perkapitanya, semakin maju pula citra bangsa tersebut dimata dunia. Meskipun demikian, hal itu adalah pandangan secara umum. Jika kita melihat sisi lain dari dinamika ekonomi makro yang dipegang oleh pemilik modal besar, kita akan menemukan keadaan masyarakat yang jauh dari kesejahteraan hidup. Meskipun di negara maju sekalipun. Seolah-olah mereka tidak diperhitungkan dalam survey kemajuan bangsa tersebut.

                Pada skala global, kita bisa melihat bahwa keadaan ekonomi bangsa yang sedang berkembang, misalnya Indonesia, terancam semakin parah yang disebabkan oleh system ekonomi kapitalisme dan perdagangan bebas yang dikuasai oleh bangsa-bangsa yang memiliki modal besar. Hal ini menyebabkan ketergantungan bangsa kecil terhadap bangsa besar yang mereka cenderung berpaham sekuler. Suatu paham yang memisahkan kepentingan dunia dan kepentingan akhirat. Mereka mengabaikan petunjuk Tuhan dalam mengatur urusan dunia. Mereka menjunjung tinggi kemampuan akal manusia untuk menyelesaikan segala permasalahan dunia. Lalu, Apakah ada solusi lain untuk menandingi paham mereka yang sekuler? Ajaran Islam menjawab pertanyaan tersebut.

            Sebenarnya Islam tidak hanya sebatas ritual dan prinsip moral saja. Ajaran Islam bersifat Syamil (menyeluruh) sehingga mengatur segala aspek kehidupan untuk menuju kesuksesan dunia akhirat. Solusi Islam tentang perekonomian syari’ah mampu menjawab permasalahan eonomi global yang pernah melanda. Meneladani system jual-beli Rasulullah membuat perekonomian lebih sehat, jauh dari saling menjatuhkan. Kepiawaian Beliau melobi patner serta ketrampilannya menawarkan barang dagangan dan kejujurannya  dalam jual beli membuat Beliau disegani mitra bisnisnya. Hal inilah yang perlu kita terapkan dalam system perekonomian global. Unutk menciptakan system ekonomi yang benar-benar syar’i.

Ma’mun Purnomo

Sekum KAMMI 2010-2011

Pos ini dipublikasikan di Departemen Hubungan Masyarakat, Forum Bebas. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s