The Power Of Ramadhan

The Power Of Ramadhan

(Kekuatan Ramadhan)

Seruan “Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban ya Ramadhan”, selamat datang Ramadhan ungkapan ini  tampil dengan berbagai ekspresi yang Variatif, diMasjid-masjid, Musholla, dikoran, televisi, radio dan media – media yang lain bahkan Ormas-ormas Islam juga tidak ketinggalan dalam berpartisipasi menyambutan bulan ramadhan, berbagai persiapan agenda Ramadhan juga berlomba – lomba untuk ditampilkan, rasa gembira, harapan untuk menuju kesuksesan dalam berbagai aspek pun lebih semangat untuk diupayakan keberhasilannya, nuansa spiritualitas lainnya yang penuh dengan makna kebaikan akan selalu dilombakan dalam berbagai ekspresi, sungguh besar kekuatan Ramadhan yang tahun lalu kita lepas dengan heningan dan linangan air mata, kini datang kembali, Subhanallah……….   

Banyak nilai – nilai dan hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa, dan mulai saat ini marak dikaji dan dikembangkan, ada nilai Sosial yang meningkatkan tingkat kepedulian kita sebagai makhluk yang harus bermasyarakat, dengan lapar puasa kita akan lebih merasakan bagaimana rasa lapar yang setiap hari dirasakan oleh saudara kita yang serba kekurangan, ada nilai perdamaian, kebersamaan, persaudaraan, semangat gotong royong, nilai peningkatan kualitas kepribadian, nilai kesehatan yang sudah teruji dalam ilmu kedokteran dan berbagai hikmah yang lain yang akan melengkapi kekuatan Ramadhan yang sangat besar ini.

Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kekuatan besar sehingga Moment ini harus kita kelola dengan sebaik-baiknya, Gunakan moment Ramadhan ini dengan peningkatan kualitas kita sebagai hamba Allah yang sholeh dan pengertian Sholeh bukan hanya diukur dari pelaksanaan ibadah Maghdah (khusus) saja, akan tetapi bagaimana peran kita dalam membawa kepada kebaikan dimasyarakat tentunya dengan semangat perubahan dimanapun dan kapanpun kita berada, dan kiranya pas ketika Ramadhan ini dijadikan sebagai Moment kobaran semangat untuk mencapai hal itu.

Dengan keterangan diatas sudah menjadi suatu keharusan kita semua untuk mempersiapkan dan memprogram aktifitas kita selama bulan Ramadhan ini, insya Allah akan menghasilkan kebahagiaan. Kebahagiaan akan terasa istimewa manakala melalui perjuangan dan jerih payah, Semakin berat dan serius usaha kita meraih kabahagiaan, maka semakin nikmat kebahagiaan itu kita rasakan.

Dijelaskan dalam sebuah Hadist Nabi bahwa orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan. Pertama yaitu kebahagiaan ketika ia berbuka puasa, Ini artinya kebahagiaan yang duniawi, yang didapatkannya ketika terpenuhinya keinginan dan kebutuhan jasmani yang sebelumnya telah dikekang, maupun kabahagiaan rohani karena terobati dengan siraman-siraman Tausiyah dan amal sholeh, Kedua adalah kebahagiaan ketika bertemu dengan Allah SWT, inilah kebahagian puncak dari segala kebahagiaan yang ada, yaitu kebahagiaan ukhrawi yang akan didapatkan pada saat pertemuan yang hakiki.

Oleh sebab itu marilah kita bersama – sama menyongsong dan mempersiapkan Moment Ramadhan ini dengan sebaik baiknya sebagai Revolusi menuju perbaikan, dan kekuatan Ramadhan yang besar ini marilah kita imbangi dengan peningkatan Kualitas dan Semangat kita dalam menjalankan segala aktifitas.

“Meraih Muttaqin dengan Semangat Ramadhan”

Oleh    : Ismaturrohman

Pos ini dipublikasikan di Departemen Hubungan Masyarakat, Departemen Kaderisasi, Departemen Kajian Strategis, Forum Bebas, Taujih Ketua Komisariat. Tandai permalink.

Satu Balasan ke The Power Of Ramadhan

  1. ibnu berkata:

    BAHAYA HIZBIYYAH

    Oleh
    Muhammad Al-Abadah

    Tidak ada satupun yang lebih berbahaya bagi da’wah Islamiyah dewasa ini ketimbang Fanatisme Hizbiyyah (Fanatik Golongan). Ia merupakan penyakit berbahaya yang bakal mencerai beraikan ukhuwah Islamiyah. Ia pasti akan memutuskan ikatan-ikatan kuat tali ukhuwah, dan akhirnya akan mengotori kesuciannya.

    Adakah dibenarkan seorang muslim menunjukan wajah ceria, senyum lebar dan salam hangatnya hanya kepada orang satu kelompok atau satu jama’ah saja ..? Sementara kepada orang dari kelompok lain ia bermuka masam, bersikap dingin dan hambar ..? Adakah dibenarkan seorang muslim mengabaikan kesalahan-kesalahan yang dilakukan shahabat kelompoknya, sementara apabila orang lain melakukan kesalahan yang sama, ia rajin menggunjingkan dan menyebarluaskannya..?

    Apabila seorang di antara anggota kelompok (hizbiyyah) ini anda beri peringatan karena fikrah atau tashawwur (orientasi berfikir)nya menyimpang (munharif), maka ia akan segera memberikan pembelaan-pembelaan dengan dalih : “Ini hanyalah kekeliruan, tetapi tidak merusak prinsip”.

    Disebabkan fanatisme hizbiyyah inilah maka anda lihat, seseorang tidak akan mau melakukan tela’ah, belajar atau menimba ilmu, melainkan hanya dari satu arah saja, yaitu hanya dari buku-buku, tulisan orang sekelompoknya dan dari orang-orang tertentu yang telah diwasiatkan tidak boleh belajar melainkan hanya kepada mereka.

    Dari situlah lahir cakrawala berpikir sempit, dan manusia-manusia yang berkepribadian keji. Ia tidak melihat melainkan hanya dari satu sudut pandang,dan tidak tahu menahu (persoalan) melainkan hanya pemikiran itu satu-satunya.

    Namun, mengapa hizbiyyah semacam ini bisa menyusup ke dalam shaf (barisan) da’wah ..? Siapakah pula pendukungnya sehingga ia tetap berlangsung..?

    Sesungguhnya telah jelas bahwa hizbiyyah adalah suatu pola dari sebuah tarbiyah buruk yang dilakukan guna menangani penggarapan diri seorang manusia, kemudian dikatakannyalah padanya (bahwa) :”Kamilah kelompok paling afdhal, sedangkan selain kami, masing-masing mempunyai kekurangan itu ….”. Semua itu karena setiap kelompok hizbiyyah ingin menghimpun dan memperbanyak jumlah anggota.

    Sebagai konsekwensinya, maka mereka harus menjatuhkan nama kelompok lain supaya orang jangan sampai masuk menjadi kelompok lain tersebut. Seakan-akan kita ini menjadi kelompok-kelompok kontetstan dari beberapa partai yang bersaing guna merebut kemenangan dalam suatu pemilihan umum. Sampai-sampai terkadang perlu membeli suara massa dengan klaim-klaim memikat dan dengan harta benda.

    Dari tarbiyah seperti inilah, akhirnya seseorang harus sudah terpisah dari majlis-majlis para ulama atau orang-orang berilmu semenjak pertama ia menerjuni dunia da’wah atau ketika untuk pertama kalinya ia ingin mencari ilmu, sehingga ia tidak bisa mengenyam tarbiyah para ulama yang mentarbiyah dengan adab, akhlaq dan pengalaman mereka.

    Kalau demikian keadaannya, maka niscaya dia bakal menyerap (ilmu) dari orang-orang yang aktif menjalankan amaliyah tarbiyah. Jika kebetulan orang itu memiliki ilmu dan tidak mempunyai ambisi kepemimpinan, bisa jadi tarbiyahnya mendekati benar. Tetapi seandainya orang-orang itu (ternyata) menyukai kedudukan atau dalam dirinya terdapat unsur penipuan ilmu, maka tentu, dari tarbiyah ini akan terlahir pemuda-pemuda buruk yang fanatik terhadap kelompok.

    Tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari penyakit ini, kecuali orang yang selalu mengambil perhatian sejak awal, dan mengerti bahwa ada beberapa bentuk tarbiyah yang secara pasti akan menunjukkan hizbiyah. Untuk itu dia akan merasa takut dan berusaha membentengi diri. Dia akan selalu mawas diri, selalu melihat ke belakang, selalu memperbaharui langkah-langkahnya dan selalu melakukan pembaharuan setiap saat, sehingga dirinya tidak terjatuh ke dalam cengkeraman penyakit berbahaya yang keburukan serta malapetakanya merajalela ini.

    [Diterjemahkan secara bebas dari majalah Al-Bayan, No. 59 Rajab 1413H, Januari 1993M. hal. 46-47 , Dimuat di Majalah As-sunnah tanpa edisi, hal 43 dan 48, penerjemah Team Redaksi Majalah Assunnah]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s