KAJIAN ORIENTALIS TERHADAP AL-QUR’AN

Ikhwan KAMMI

Agus QA

MUNCULNYA KAJIAN ORIENTALIS TERHADAP AL-QUR’AN

Kajian Orientalis terhadap kitab suci Al-Qur’an tidak sebatas mempertanyakan otentitasnya saja. Isu klasik yang selalu diangkat adalah soal pengaruh Yahudi, Kristen, Zoroaster dan sebagainya terhadap Islam maupun isi kandungannya (‘theories of borrowing and influence’). Sebagian mereka berusaha mengungkapkan apa saja yang bisa dijadikan bukti bagi ‘teori pinjaman dan pengaruh’ itu, terutama dari literatur dan tradisi Yahudi-Kristen (semisal Abraham Geiger, Clair Tisdall, dan lain-lain).

Adapula yang membandingkan ajaran Al-Qur’an dengan adat-istiadat Jahiliyyah, Romawi dan lain sebagainya. Biasanya mereka katakan bahwa cerita-cerita dalam Al-Qur’an banyak yang keliru dan tidak sesuai dengan versi Bible yang mereka anggap lebih akurat. Sikap anti-Islam ini tersimpul dalam pernyataan negatif seorang Orientalis Inggris yang banyak mengkaji karya-karya sufi, Reinold A. Nicholson, “Muhammad picked up all his knowledge of this kind [i.e. Al-Qur’an] by hearsay and makes a brave show with such borrowed trappings-largely consisting of legends from the hagada and Aporcrypa”. Inti dari ucapannya adalah membuat pandangan yang negatif terhadap citra Nabi Muhammad dan Al-Qur’an, walau bagaimanapun mereka tak ubahnya bagaikan buih, timbul dan tenggelam begitu saja, berlalu tanpa pernah berhasil mengubah keyakinan dan penghormatan umat Islam terhadap kitab suci Al-Qur’an.

PENDEKATAN ORIENTALIS DALAM MENGKAJI AL-QUR’AN

A. Pendekatan secara Historis

Pendekatan historis adalah salah satu upaya untuk mencari fakta yang tidak lepas dari maksud dan kronogi sejarah yang mengiringi suatu peristiwa. Dalam kajian orientalis terhadap Al-qur’an ini tidak akan lepas dari hal tersebut. Seperti halnya pernyataan berikut, beberapa sebab atau alasan para Orientalis dari zaman ke zaman yang menilai perlu adanya kajian terhadap kitab suci Al-Qur’an.

Pada tahun 1927, Alphonse Mingana, pendeta Kristen asal Irak dan mantan guru besar di Universitas Birmingham, Inggris, mengumumkan bahwa,”sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan studi kritis terhadap teks Al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadapa kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahjasa Yunani. Mengapa Orientalis-misionaris satu itu menyeru demikian? Seruan semacam ini dilatarbelakangi oleh kekecewaan mereka dan juga disebabkan oleh kecemburuan mereka terhadap umat Islam dan kitab suci mereka yaitu Al-Qur’an. Di satu sisi mereka juga sudah meragukan otentitas Bible, mereka terpaksa menerima kenyataan pahit bahwa keotentikan Bible yang ada di tangan mereka sekarang sudah berbeda jauh dari teks aslinya. Menurut pandangan mereka bahwa kitab Injil yang mereka yakini itu ternyata adalah bukan asli alias palsu, terlalu banyak campur tangan manusia di dalamnya, sehingga sukar untuk dibedakan mana yang benar-benar wahyu dan mana yang bukan wahyu.

Hal yang senada dikatakan oleh Saint Jerome yang merupakan Orientalis pengakaji teks bible yang dikabarkan mengeluhkan fakta banyaknya penulis Bible yang diketahui bukan menyalin perkataan yang mereka temukan, tetapi malah menuliskan dari apa yang mereka pikir sebagai maknanya. Sehingga yang terjadi bukan pembetulan kesalahan, tetapi justru penambahan kesalahan.

Disebabkan rasa kecewa dengan kenyataan semacam itu, maka pada tahun 1720 Master of Trinity College, R. Bentley, menyeru umat Kristen agar mengabaikan kitab suci mereka, yakni naskah perjanjian baru yang diterbitkan pada tahun 1592 versi Paus Clement,…the ‘textus receptus’ [is] to be abandoned altogether! Seruan tersebut diikuti oleh munculnya “edisi kritis” perjanjian baru hasil suntingan Brooke Foss Westcott (1825-1903) and Fenton John Anthony Hort (1828-1892).

Jauh sebelum Mingana dan Orientalis-Misionaris lainnya, ada yang pertama kali jauh sebelum mereka, tepatnya pada tahun 1834 di Leipzig (Jerman) yaitu seorang Orientalis bernama Gustav Flugel menerbitkan “mushaf” hasil kajian filologinya. Naskah yang dibuatnya itu ia namakan Corani Textus Arabicus. Kemudian muncul Theodor Noldeke yang ingin merekonstruksi sejarah Al-Qur’an dalam karyanya Geschichte des Qorans (1860), sebuah upaya yang belakangan ditiru oleh segelintir kaum liberal di Indonesia.

B. Pendekatan secara Metodologis

Secara metodologi kajian al-qur’an yang dilakukan oleh para Orientalis adalah dengan menggunakan metode hermeunetika layaknya mereka lakukan pada kajian Bible. Hermeneutika sebenarnya adalah bentuk dari metode keilmuan filsafat yang mendasarkan pada pemahaman teks. Teks di sini dimaksudkan adalah teks-teks suatu naskah yang perlu dikaji secara mendalam dan hasilnya ditemukan makna sesuai dengan konteks.

Secara harfiah hermeunetik, artinya ‘tafsir’. Secara etimologis, istilah hermeunetika dari bahasa Yunani hermeneuin yang berarti menafsirkan. Istilah ini merujuk kepada seorang tokoh metologis dalam mitologi yiunani yang dikenal dengan nama hermeneutika (Mercurius). Di kalangan pendukung hermeneutika ada yang menghubungkan sosok Hermes dengan Nabi Idris. Dalam mitologi Yunani Hermes dikenal sebagai dewa yang bertugas menyampaikan pesan-pesan dewa kepada manusia. Dari tradisi Yunani, Hermeneutika berkembang sebagai metodologi penafsiran Bibel, yang di kemudian hari dikembangkan oleh para teolog dan filsafat barat sebagai metode penafsiran secara umum dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

Di satu sisi banyak yang ditemui oleh para Orientalis ketika mengkaji teks Bibel yang mereka anggap teks itu sudah direkayasa dan bersifat manusiawi, maka berangkat dari itu Bible memungkinkan menerima berbagai metode penafsiran Hermeneutika, dan menempatkannya sebagai bagian dari dinamika sejarah.

Sejarah mencatat bahwa jauh sebelum gerakan ini, telah banyak penulis yang mengajukan hermeneutika sebagai alternatif metode penafsiran Al-Qur’an, namun mereka gagal dan tidak berhasil. Alphonse Mingana misalnya, pendeta Kristen asal Irak dan guru besar di Universitas Birmingham-Inggris, pada tahun 1927 mengatakan, “sudah saatnya untuk melakukan kritik terhadap teks Al-Qur’an sebagaimana telah dilakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arani dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani”.

Berdasarakan pengalaman yang menimpa penganut Kristen, hermeneutika telah menimbulkan pertikaian hingga pertumpahan darah. Pecahnya Kristen menjadi Katholik dan Protestan adalah hasil sumbangan dari hermeneutika. Jadi, semboyan pengusung hermeneutika “untuk menghindarkan perpecahan umat dalam penafsiran Al-Qur’an maka dibutuhkan alternatif baru (sebenarnya sudah klasik) yaitu hermeneutika yang masih perlu dikaji maksud dan tujuannya.

Ilmuwan barat menjelaskan bahwa maksud dan tujuan hermeneutik adalah sebagai metode tafsir tersendiri atau salah satu filsafat tentang penafsiran yang bisa sangat berbeda dengan metode tafsir alqur-an. Di kalangan Kristen penggunaan hermeneutika dalam interpretasi Bibel sudah sangat lazim digunakan walaupun tidak jarang menimbulkan perdebatan.

Kalau kita kembali untuk mengkaji ilmu-ilmu alqur’an seperti ilmu Asbabun nuzul, nasakh mansukh,dll. Sebenarnya adalah suatu keniscayaan yang harus dipelajari umat Islam terlebih dahulu sebelum mengkaji metode hermeneutika. Karena seperti apa yang diungkapkan oleh Dr.V.Groenen salah satu pemuka Kristen yang sadar akan perbedaan antara konsep teks al-qur’an dengan Bibel. Al-qur’an bukanlah kitab yang mendapatkan inspirasi dari tuhan sebagaimana dalam konsep Bibel, tetapi al-qur’an adalah kitab tanzil, lafdzhan wa ma’nan (lafadz dan maknanya) dari Allah. Konsep ini berbeda dengan konsep teks dalam Bibel, yang merupakan teks yang ditulis manusia yang mendapatkan inspirasi dari Roh kudus.

Menanggapi upaya untuk membedakan antara metode interpretasi kitab suci ‘tafsir’ yang digunakan oleh umat Islam dan Hermeneutika oleh kaum Orientalis barat. Seorang sarjana muslim terkemuka, Syekh Muhammad Naquib al-Attas, secara jelas menyatakan perbedaan antara tafsir dan hermeneutika. Ia mengemukakan bahwa Hermeneutika yang digunakan dalam teologi Kristen itu mempunyai latar belakang yang tersendiri yang berbeda dengan tafsir dalam tradisi Islam. Boleh jadi penemuan-penemuan melalui hermeneutika Bibel itu nantinya akan lebih menunjukkan lagi kebenaran al-Qur’an. Sehingga apa yang hilang pada Bibel dapat ditemukan dalam al-Qur’an.

SIKAP ORIENTALIS DALAM MENGKAJI AL-QUR’AN

Dalam mengkaji Al-Qur’an para tokoh Orientalis tidak lepas dari sejarah para pendahulu dan pengikutnya yang senantiasa mengikuti petunjuk dasar keilmuan dan temuannya dalam memahami literatur dan maksud yang terkandung di dalam kitab suci Al-qu’an. Baik dengan pemahaman yang menjustifikasi kearah yang positif atau ke arah yang negatif. Di bawah ini akan kami sebutkan beberapa sikap para Orientalis yang menyatakan pendapatnya dalam mengkaji Al-Qur’an:

A. Sikap tokoh Orientalis yang mengkaji dengan kesan negatif terhadap Alqur’an

Sikap Washingthon Irving

Washingthon Irving (1783-1859), sarjana hukum dan diplomat yang pernah mewakili Amerika Serikat di Spanyol dengan jabtan Minister Resident (1942-1846), banyak meninggalkan karyanya yang mengungkapkan tentang Al-Qur’an, diantaranya ia pernah menyatakan bahwa Muhammad adalah penipu umatnya dan wahyu yang tertulis dalam Al-Qur’an itu adalah palsu yang dibuatnya secara sengaja (deliberate falsehood). Ia juga menyatakan bahwa susunan Al-Qur’an yang ada pada Muhammad tidak tersusun sistematis seperti ditulis dengan ceceran tulang-belulang, bebatuan, dedaunan, pelepah kurma dan lain sebaginya. Dari hal itu ia menginspirasikan bahwa bagaimana hal itu bisa diyakini kalau saja pembuatannya tidak tersusun secara sistematis.

Sikap Theodore Noldeke

Dr. Theodore Noldoke (1836-1930) adalah seorang Orientalis terkemuka di Jerman yang khusus mendalami bahasa Siryani, Arab dan persia. Ia pernah mengemukakan pendapatnya mengenai Al-Qur’an sebagai berikut:

“Kita tidak hanya mempunyai tanggapan-tanggapan yang penuh keseluruhan dari watak Muhammad itu, bahkan ia mempunyai karya yang otentik yaitu Al-Qur’an, yang disampaikan atas nama Allah. Sekalipun demikian tokoh yang luar biasa dan menarik dan mengerikan itu dalam banyak hal tetap merupakan teka-teki. Ia banyak sekali mendalami agama Yahudi dan agama Kristen, tapi hanya melalui laporan lisan belaka dan pasti kita tidak akan puas dengan banyaknya khayalan (the grossness of imagination), kekurangan logika (the undenibable poverty of thought), dan lain sebagainya …”

Dari ungkapan Theodore Noldeke di atas dapat kita asumsikan bahwa ia masih berpikir dengan terlampau berkhayal bahwa apa yang ada di zaman nabi muhammad dianalogikan sama dengan zaman yang ia alami. Coba kita bayangkan apakah di zaman Muhammad sudah ada Universitas dan sudah ada aktivitas perkuliahan di Fakultas Teologi yang pernah Theodore Noldeke alami saat itu, ia sangka bahwa nabi Muhammad pernah berguru pada Maha guru dari beberapa pemuka agama terdahulu seperti pengalaman ia dapatkan. Sehingga merujuk pada kajian Al-Qur’an olehnya bahwa Al-Qur’an itu keterlaluan banyak “imajinasi’, kekurangan logika, kemiskinan pemikiran, tidak ditemukan sesuatau pembuktian yang mendukung masing-masing pendapat tersebut. Jadi lebih banyak merupakan statmen yang tidak rasional bagi para peneliti.

Sikap Reinhart Dozy

Reinhart Dozy (1820-1884) adalah seorang Orientalis terkemuka di negeri Belanda dan Mahaguru bahasa Arab di universitas Leiden, yang luas sekali studinya tentang berbagai daulat Islam di Andalusia. Pendapatnya tentang Kitab suci Al-Qur’an adalah sebagai berikut, bahwa:

Al-Qur’an itu adalah kumpulan kisah-kisah (stories), bimbingan (exhortations), hukum (laws), dan sebagaianya, ditempatkan damping berdamping tanpa memperhatikan urutan kronologis ataupun urutan lainnya. Wahyu-wahyu itu jarang sekali yang panjang, kebnayakan berisikan ayat-ayat singkat, yang langsung dituliskan pada masa hidup Muhammad, atupun dipercayakan kepada hafalan ingatan; karena, sebagaimana dibuktikan dengan silsilah turunan (geneologies) beserta sajak-sajak dari masa jahiliyah (paganisme) yang diwariskan turun temurun secara lisan, menunjukkan orang-orang semas Muhammad itu memiliki ingatan yang kuat sekali, seperti halnya setiap kelompok yang sedikit sekali yang mempergunakan tulisan.

Dari pandangan Reinhart Dozy, tampak bahwa ia mengakui_dengan mengemukakan bukti-bukti yang rasional sekali_bahwa orang-orang pada masa Nabi Muhammad SAW. itu ” memiliki kemampuan ingatan yang luar biasa kuatnya”. Tetapi dibalik itu ia lupa memperhatikan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an itu merupakan bagian bacaan di dalam setiap shalat bagi umat Muhammad. Kalau pada masa itu orang punya ingatan yang kuat, dan andai ada sesuatu pihak yang menyalahgunakan bunyi ayat maka akan segera mudah kentara ditemuinya kesalahan dan akan cepat memperoleh reaksi dari para Muhafidzin (orang-orang yang hafidz Al-Qur’an) dari sana-sini.

B. Sikap tokoh Orientalis yang mengkaji dengan kesan positif terhadap Alqur’an

Sikap Philip K. Hitti

Philip K. Hitti adalah seorang guru besar sastra semit di universitas Princeton. Ia lahir di lingkungan keluarga Kristen di Lebanon. Dari sekelumit pendapat Philip K.Hitti mengenai Al-Qur’an itu disaksikan suatu kenyataan bahwa dari “banyak dan penuh kekaburan dan sisipan dan tambahan pada ayat Al-Qur’an itu menurut pendapat tokoh-tokoh orientalis sebelumnya, kini bergeser kepada sedikit sekali ketidakpastian pada ayat Al-Qur’an itu. Pergeseran pendapat serupa itu dari abad ke abad tidaklah menakjubkan, karena apa yang disebut dengan pendapat ilmiah itu senantiasa dapat saja berubah dari waktu ke waktu berkat perkembangan hasil penelitian. Pergeseran serupa itu tetap berkelanjutan disebabkan perkembangan aktivitas penelitian seseorang tokoh ilmuwan dari waktu ke waktu.

Sikap Tor Andrae

Tor andrae adalah seorang profesor dan tokoh orientalis dari Jerman, ia menyatakan dalam tulisannya mengenai Al-Qur’an, bahwa Al-Qur’an adalah sebagai wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara mutawatir, dan di dalamnya terdapat pesan (message) yang bersifat rasional dan universal bagi umat manusia. Dari ungkapan tersebut tampak Tor andrae lebih berpikir maju dari tokoh sebelumnya dalam mengkaji Al-Qur’an.

Sikap W.

W. Montgomery Watt lahir di Scotlandia tahun 1909 dan ia juga pernah menjadi mahaguru dalam mata kuliah bahasa Arab dan studi Islam pada tahun 1964, di Universitas Edinburgh, Skotlandia. Ia juga pernah menulis buku berjudul Muhammad, Prophet and Statesmen (Muhammad, Nabi dan Negarawan), hal yang sangat unik dalam pola pikirnya adalah ia sangat mengagumi pribadi Nabi Muhammad SAW, namun ia berbalik pendapat yang negatif dalam mengkaji Al-Qur’an. Ia menyatakan bahwa apa yang ada di dalam Al-Qur’an itu ada ayat yang dihilangkan dan ditambahkan tetapi anehnya ia sendiri tidak dapat membuktikan mana saja ayat yang dimaksud tersebut. Jadi ada hal yang kontradiktif dalam pemikirannya dalam mengkaji Al-Qur’an.

Sikap Sir Hamilton A.R Gibb

Sir Hamilton A.R Gibb, ia dilahirkan di Alexandria, mesir, pada tangggal 2 Januari 1895 M dan meninggal dunia pada tahun 1973. Gibb dapat dianggap sebagai seorang Orientalis terbesar pada pertengahan abad ke-20 dengan pengetahuannya yang sudah mencakup seluruh cabang peradaban Islam dan sastra Arab. Dalam mengkaji al-Qur’an pada awalnya ia menyatakan sikap bahwa al-qur’an adalah bukan wahyu; Muhammad SAW bukan Nabi ; tetapi dikatakan sebagai seorang yang sakit saraf dan lain sebagainya yang lebih mendistorsi negatif Islam. Namun dengan berjalannya waktu dan tekad yang besar untuk memahami secara komprehensif dan valid dari setiap data dan fakta tentang Islam, kemudian ia menemukan celah positif dalam mengakaji al-qur’an sesuai kebenarannya.

Sikap Dr. Toshihiko Izutsu

Dr. Toshihiko Izutsu adalah mahaguru pada Institute of Cultural and Linguistic Studies, Universitas Keio di Tokyo (Jepang); yang setiap tahun menjabat Mahaguru untuk mata kuliah Teologi Islam dan Filsafat Islam selama enam bulan pada Institute of Islamic Studies, McGill University, Kanada.

Dr. Toshihiko Izutsu melalui karyanya Ethico religious Concepts in the Qur’an menyoroti Kitab suci Al-Qur’an dari jurusan nilai-nilai sepanjang etis, yang terkandung dalam setiap ayat Al-Qur’an. Dalam pendapat lain ia menyatakan sebagai berikut:

“Ditilik dari jurusan fakta bahwa ajaran al-Qur’an itu ditakdirkan berkembang, tidak hanya sebagai suatu agama belaka, tapi juga suatu kebudayaan dan peradaban, maka kita perlu mengakuinya sebagai suatu yang teramat agung dalam lapangan etika-sosial, yang berisikan konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dari orang banyak itu di dalam masyarakat. Dan al-Qur’an itu lebih khusus dalam tahap masa Madinah, banyak sekali berbicara tentang kehidupan kemasyarakatan. Aspek ini dalam etika Al-Qur’an belum ditelusuri secara sistemik di dalam karya sekarang. Hal itu memerlukan suatu buku yang lain untuk ditulis”.

Pendapat Toshihiko Izutsu mengenai etika Al-qur’an itu memperdengarkan pandangan yang positif terhadap nilai-nilai sosial dan nilai-nilai agamawi yang terkandung di dalam al-Qur’an, dan pandangannya yang positif itu tercermin sepenuhnya di dalam karyanya “the semantic transformations of the principle ethico-religious terms in the Arabic language during this foramative period of Islamic history”, yakni: “Peralihan pengertian dari istilah-istilah etis-religius yang asasi di dalam bahasa Arab selama tahap masa yang format di dalam sejarah Islam”.

Kalau kita perbandingkan sikap dan pandangannya dengan sikap dan pandangan tokoh Orientalis lain di atas megenai kajian al-qur’an dapat disaksikan suatu kenyataan, bahwa telah terjadi perkembangan pendapat yang terus menerus dan pada akhirnya kagum dan takjub dengan sejatinya Al-Qur’an.

Kesimpulan

Kajian para Orientalis terhadap al-Qur’an adalah suatu hal yang memungkinkan untuk terjadi. Beberapa hal yang dapat disimpulkan adalah landasan historis dari para orientalis yang pada awalnya hanya menelaah karya-karya besar umat Islam berkembang ke wilayah mengkaji kitab-kitab suci agama seperti al-Qur’an. Bermula dari beberapa inisiatif kalangan Orientalis barat yang berani menggagas dan mengkritik keotentikan Bibel dengan melayangkan metode hermeneutikanya juga mulai dirahkan ke al-Qur’an.

Dengan berkembangnya arus pemikiran Orientalis yang semula tidak tertarik untuk mengaji kitab suci al-qur’an, secara bartahap mulai berani mengkaji kitab suci tersebut dengan metode yang mereka lakukan terhadap teks Bibel.

Adapun tokoh-tokoh Orientalis yang pernah mengkaji al-Qur’an adalah Washingthon Irving, Reinhart Dozy, Philip K. Hitti, Tor AndraeW., Montgomery Watt, Sir Hamilton A.R Gibb, Sir Hamilton A.R Gibb, Dr. Toshihiko Izutsu dan lain-lain yang mungkin belum kita ketahui. Dari berbagai asumsi tokoh diatas beragam sikap dan pandangan dalam mengkaji kitab suci al-qur’an.

DAFTAR PUSTAKA

Adian Husaini, M.A, Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an, Jakarta: Gema Insani, 2007.

Joesoef Sou’yb, Orientalisme dan Islam, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1990.

Jurnal Kajian Islam Al-Insan, Al-Qur’an dan Serangan Orientalis, Jakarta: Lembaga dan Kajian dan Pengembangan Al-Insan, vol.1, No.1 Januari 2005.

Muhammad Azhar, dkk., Studi Islam dalam Percakapan Epistimologis, Yogyakarta: Sipress, 1999.

Syamsudin, Arif, Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insani, 2008.

Montgomery Watt Munculnya istilah hermenutika oleh kalangan filusuf dan teolog tidak lepas dari pemikiran seorang filosof terkemuka dari Jerman yaitu, Fredrich Schleimacher, ia adalah seorang filosof berpaham Protestan yang dianggap pertama kali sebagi pencetus ‘Hermeneutika umum’ yang dapat diaplikasikan kepada semua bidang kajian. The New Encyclopedia Britania menulis, bahwa hermeneutika adalah studi prinsip-prinsip general tentang interpretasi Bible (the study of general principle of biblical interpretation). Tujuan dari Hermeneutik adalah untuk kebenaran dan nilai-nilai dalam Bible.

By. Agus Qoribul Ahwan

Pos ini dipublikasikan di OPINI dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke KAJIAN ORIENTALIS TERHADAP AL-QUR’AN

  1. Assalamu’alaikum, tak panjang kata syukron atas tulisan yang menjadi inspirasi pembuatan makalah ainaa, semoga lebih bermanfaat. Jika ada waktu bolehlah kirim e mail ke Ainaa, baik yang berupa makalah or artikel…., thank you , wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s